fbpx

info@dailyhoney.co.id

Mengapa Kita Seharusnya Tidak Mudah Percaya dengan Cara Uji Keaslian Madu yang Beredar Luas di Internet?

Mengapa Kita Seharusnya Tidak Mudah Percaya dengan Cara Uji Keaslian Madu yang Beredar Luas di Internet?

Tahukah kamu?

Sekitar 80% madu yang beredar di pasaran ternyata adalah madu tidak murni. Beberapa minuman dalam kemasan botol atau berbentuk sachet yang katanya mengandung madu asli pun juga tak jarang dicampur dengan air dan zat pemanis tambahan. Dan bahkan diantaranya juga dikemas dengan baik dan diperdagangkan dengan merk asli. Selain itu, produk madu palsu yang ada di pasaran tidak hanya berasal dari olahan madu murni, melainkan juga bisa berupa larutan sirup manis yang dibuat menyerupai madu asli.

Sehingga, dengan mengetahui hal tersebut, tentunya kita harus cukup jeli ketika membeli madu yang ada di pasaran.

Madu merupakan produk hewani yang bisa diperoleh langsung dari sarang lebah sebagai sumbernya atau melalui peternakan lebah. Madu yang kita jumpai di pasaran dengan merk dagang biasanya dikemas dalam botol dengan atau tanpa melalui pengolahan terlebih dahulu. Proses pengolahan oleh pabrik yang menghasilkan madu kemasan umumnya adalah melalui pemanasan 70ᵒC atau disebut juga dengan pasteurisasi.

Nah, inilah yang membedakannya dengan madu mentah atau madu murni. Madu murni mempertahankan keaslian nutrisinya tanpa pengolahan lebih lanjut (paling tidak hanya melalui  proses penyaringan). Ada sebuah klaim yang mengatakan bahwa pemanasan yang dilakukan pada madu dengan suhu lebih dari 62ᵒ C dapat merusak kandungan nutrisi pada madu tersebut. Hal itu menyebabkan manfaat dari madu yang kita konsumsi menjadi kurang optimal.

Baca juga: Madu Asli dan Madu Palsu, Bedanya Dimana?

Oleh karena itu, rasanya penting untuk mengetahui bagaimana caranya membedakan madu asli dan madu palsu yang beredar di pasaran agar kita tidak gampang tertipu, tentunya. Terutama, bagi para pecinta madu atau Bunda di rumah yang barangkali selalu menyediakan madu untuk kebutuhan rumah tangga.

.  .  .

Akan tetapi, sayangnya lagi kebanyakan ‘tips dan trik untuk mengetahui keaslian madu’ yang beredar luas di internet adalah tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Mengapa begitu? Karena cara pengujiannya yang tidak ilmiah dan juga sampel yang terlalu sedikit untuk dilakukan pengujian (sehingga hasilnya kurang bisa dipercaya secara objektif).

Silahkan lakukan pencarian di Google:  “bagaimana cara mengetahui madu itu asli atau palsu?”, dan kamu akan ditawari sejumlah saran pengujian dimana-dimana. Berikut ini adalah (setidaknya) 11 tes sederhana untuk membedakan madu asli dan madu palsu yang telah saya rangkum dari berbagai laman populer di internet.

  1. Uji kekentalan madu
  2. Uji rasa manis pada madu
  3. Uji dengan memperhatikan kejernihan madu
  4. Uji reaksi madu saat dilarutkan ke dalam air
  5. Uji dengan meneteskan madu pada kertas
  6. Uji dengan meneteskan madu di atas pasir
  7. Uji dengan menggunakan korek api
  8. Uji dengan cara memanaskan madu
  9. Uji dengan cara memasukkan madu ke dalam kulkas
  10. Uji dengan melihat reaksi semut
  11. Uji reaksi madu dengan kuning telur

Lalu, apa yang perlu diluruskan dari tes keaslian madu di atas?

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, kevalidan dari cara-cara pengujian populer yang terlanjur dipercaya tersebut tidak bisa dipertanggungkawabkan, karena metode pengujiannya yang kurang layak dan tidak terstandarisasi. Pada kenyataannya, untuk bisa memastikan keaslian madu, adalah tidak sesederhana itu. Sebetulnya, tidak ada cara pengujian yang mudah dan cepat untuk memastikan keaslian madu yang bisa Anda coba di rumah (istilahnya: DIY test). Yang selama ini sering kita jumpai adalah cara-cara yang sama sekali tidak ilmiah.

Menurut Dr. Jasmi, peneliti hewan dan akademisi Biologi dari STKIP PGRI Padang, menyatakan bahwa untuk memastikan keaslian produk madu di pasaran perlu dilakukan pengujian ilmiah di skala laboratorium. Pengujian dimaksudkan untuk mengetahui kandungan senyawa apa saja yang terdapat pada madu tersebut.

Sebagaimana diketahui, pada proses pembuatan madu, lebah mengubah nektar atau serbuk sari yang diambil dari bunga tanaman untuk kemudian diolah menjadi madu di dalam sarang mereka. Lebah mengubah gula alami sukrosa pada nektar menjadi fruktosa melalui bantuan enzim konvertase yang dihasilkan dari lambung lebah. Nah, enzim konvertase inilah yang serta merta menjadi penanda alami pada madu asli. Madu palsu atau buatan biasanya adalah berupa gula yang difementasi oleh mikroba tertentu atau ditambah senyawa lainnya. Artinya, pada madu palsu tidak akan ditemukan adanya enzim konvertase tersebut.

Akan tetapi, masalahnya adalah untuk mengetahui apakah terdapat atau tidaknya kandungan enzim konvertase pada produk madu tersebut, harus dilakukan melalui serangkaian pengujian di laboratorium. Karena enzim tersebut sudah bercampur dengan senyawa lainnya dalam madu sehingga tidak mudah diidentifikasi (Republika edisi 31/07/18).

Ya, selain karena tidak mempertimbangkan kandungan enzim konvertase pada madu, cara-cara yang dicontohkan pada ke-11 eksperimen sederhana di atas juga dapat dipersalahkan (difalsifikasi) dengan cara lain.

Sekarang, MARI KITA KOREKSI CARA PENGUJIAN TERSEBUT SATU PER SATU!

#1 | Uji kekentalan madu 

“. . . caranya adalah cukup dengan mengambil sedikit madu dengan jari telunjuk atau tempelkan pada permukaan kulit, dan tunggu beberapa saat. Jika madu yang ada di jari telunjuk atau perrmukaan kulit tersebut dengan cepat meleleh atau menetes ada kemungkinan itu madu palsu, namun jika madu itu teksturnya masih kuat serta tidak mudah menetes, itulah madu asli yang Anda cari.”

Koreksi:

Sifat mudah atau tidaknya madu meleleh/menetes sebenarnya  tergantung pada kematangan madu atau konsentrasi larutan yang ada.

Perlu diketahui bahwa tidak semua madu memliki konsentrasi larutan yang sama. Rata-rata madu yang sudah matang memiliki kandungan air sekitar 20% dari total nutrisi pada madu. Madu yang diambil ketika belum cukup matang, kandungan airnya masih cukup tinggi (bisa lebih dari 20%), sehingga beberapa madu tidak begitu kental. Standar mutu madu nasional yang tercantum dalam (SNI) 01-3545-2004 menyatakan bahwa kadar air madu asli di Indonesia dapat berkisar antara 16,6 – 37,0%, dan rata-rata adalah 22,9% dari komposisi kimia keseluruhan (itu cukup tinggi, lho).

Kekentalan madu dipengaruhi oleh kadar air  dari nektar tanaman. Selain itu, suhu juga dapat mempengaruhi kekentalan madu.  Kekentalan madu pada suhu rendah lebih tinggi daripada kekentalan madu pada suhu yang tinggi. Madu pada suhu yang tinggi akan lebih mudah mengalami pencairan.

Artinya, dalam pengujian tersebut bisa saja keduanya adalah madu asli dengan konsentrasi larutan yang bebeda, satu dengan komposisi air yang lebih tinggi dan yang satu lagi tidak. Sehingga, hasilnya akan berbeda: yang satu bakal meleleh dengan mudah dan satu lagi tidak demikian, walaupun keduanya sama-sama madu asli.

#2 | Uji rasa manis dan keawetan madu

“. . . madu asli memiliki rasa manis yang khas dan bertahan lama, sebaliknya rasa manis madu palsu dalam hal  ini yang telah dicampur pemanis atau gula biasanya akan menghilang dengan segera begitu terkena udara.”

Koreksi:

Sama halnya dengan konsentrasi larutan, kandungan nutrisi pada setiap madu tidaklah sama. Hal itu tergantung pada sumber tanaman tempat nektar diambil oleh lebah dan kondisi iklim setempat. Kenyataannya, terdapat sekitar 320 jenis madu lebah yang ada di dunia dengan kemungkinan komposisi nutrisi dan kadar gula yang juga bervariasi. Sehingga, adalah mungkin bahwa tidak semua madu memiliki rasa manis yang sama.

Oleh karena itu, pengujian dengan memastikan rasa manis pada madu yang khas dan tahan lama sebagai indikator keaslian madu juga tidak dapat dibenarkan. Pada kasus madu yang diambil dari sarangnya secara kurang matang, kadar airnya bisa saja lebih tinggi dari madu murni yang biasa  dikonsumsi, sehingga hal itu dapat mengurangi rasa manis pada madu tersebut. Selain itu, rasa manis dan aroma pada madu juga dipengaruhi oleh bunga tanaman tempat nektarnya berasal.

Jadi, walaupun madu itu asli, akan ada varian rasa manis dan juga asam atau pahit yang berbeda-beda dari setiap jenis madu, tergantung sumber makanan dari lebah tersebut.

Dan juga, sifat tahan lama (durabilitas) pada madu palsu bisa diakali oleh pedagang nakal dengan bahan pengawet. Begitu pula dengan aroma, dapat ditutupi dengan diberi aroma sintetik madu sehingga menyerupai madu asli.

#3 | Uji dengan mengamati kejernihan madu

“. . . apabila madu yang anda beli terlalu jernih, anda patut curiga akan keaslian madu tersebut, karena bagaimanapun hati-hatinya proses penyaringan madu, kemungkinan sarang atau sisa serbuk sari tetap bisa lolos.”

Koreksi:

Madu asli yang berasal dari sarang lebah tidak selalu mempunyai warna cairan yang gelap dan jernih. Madu yang kurang jernih mungkin saja adalah madu asli, namun karena proses penyaringannya yang masih tradisional (seperti panen dengan peras langsung) menyebabkan sisa-sisa pada sarang lebah tidak tersaring dengan sempurna. Proses penyaringan yang lebih modern pada madu mentah dapat menghasilkan produk madu yang bersih dari zat kontaminan.

Warna madu bisa bervariasi dari putih hingga hitam tergantung darimana sumber nektar tanamannya berasal. Misalnya, madu dari bunga tanaman akasia cenderung berwarna putih, sedangkan madu hutan cenderung berwarna gelap karena sumber nektarnya dapat diperoleh dari berbagai tanaman. Selain itu, warna madu juga dipengaruhi oleh proses pengolahan, suhu dan lama penyimpanan. Jadi, warna dan kejernihan pada madu tidak dapat dijadikan sebagai indikator yang akurat dari keaslian madu tersebut.

Malahan dalam beberapa kasus, madu yang katanya baru panen dan berwarna keruh patut dicurigai. Madu yang keruh berarti telah tercampur dengan zat-zat atau mikroba lain yang ada di dalam sarang, seperti larva, lilin dan polen lebah. Kalau dibiarkan dalam waktu lama (minimal 6 bulan) akan terjadi fementasi, sehingga membuat madu jadi mudah basi dan menurunkan kualitas nutrisi pada madu tersebut.

#4 | Uji reaksi madu dengan air, kertas, dan pasir

Uji reaksi madu saat dicampur air:

“. . . madu asli tidak akan larut dengan begitu mudah ketika dimasukkan kedalam air, dan begitu sebaliknya. Madu palsu akan mudah larut dalam air.

Uji dengan kertas yang ditetesi madu:

“. . . madu palsu yang diteteskan pada selembar kertas akan diserap dan tidak lama setelahnya akan membuat kertas tersebut berlubang, sementara kertas yang ditetesi madu asli  tidak akan berlubang karena kandungan air madu asli sangat rendah.”

Uji dengan meneteskan madu di atas pasir:

“. . . tuangkan beberapa tetes madu ke permukaan pasir, lalu tunggu dan amati hasilnya. Jika pasir menyerap madu tersebut dengan mudah maka sudah bisa dipastikan madu tersebut palsu.”

Koreksi:

Cara ini mungkin saja bekerja untuk beberapa sampel pengujian, tapi tidak bisa diterapkan untuk semua jenis madu yang ada.

Beberapa madu mempunyai tekstur yang agak encer (visikositasnya rendah) dan beberapa lainnya bisa jadi sangat kental atau menggumpal seperti kristal, karena berasal dari sumber flora dan iklim vegetasi yang berbeda.

Cair atau tidaknya madu terlihat dari kadar air di dalamnya. Jika melebihi 19 persen akan terlihat lebih encer. Misalnya kadar air pada madu hutan flores, NTT yaitu 22,3%, yang mana menujukan madu hutan tersebut begitu cair. Akan tetapi, kadar air tinggi bukan berarti madu tersebut dioplos dengan air.

Pada madu ternak yang bersarang di dalam kotak stup, sarang lebah bisa diatur tingkat kelembapannya, bahkan kadar air dari pakan lebah itu sendiri.

Nah, dalam banyak cara pengujian madu yang populer, kadar air inilah yang seringkali mempengaruhi munculnya mitos-mitos tentang keaslian madu, seperti misalnya madu asli tidak bisa tembus tisu, kertas koran atau meresap ke dalam pasir. Masalahnya, pengetesan yang menjadikan kadar air rendah sebagai indikator keaslian madu juga mungkin bekerja pada madu hasil olahan yang telah dipanaskan sehingga mengurangi kadar airnya. Dengan kata lain, jika dilakukan pengujian antara madu asli (yang kadar airnya rendah) dan madu palsu (hasil pemanasan), maka sangat mungkin akan memberikan hasil yang serupa.

Dan yang paling sulit untuk dibedakan diatara semua sampel eksperimen adalah antara madu asli (pure honey) dengan madu palsu yang diolah dengan apik menyerupai madu asli (good fake honey). Perbedaan kedua sampel madu ini sangat mungkin tidak bisa diidentifikasi dengan tes sederhana seperti itu.

Dalam sebuah kajian kemurnian madu komersial di kota bogor dengan menggunakan berbagai metode pengujian oleh Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor pada tahun 2012, menyatakan bahwa diantara semua percobaan yang dilakukan, hanya uji kelarutan madu dan uji ikan mentah yang menunjukkan hasil dengan akurasi di atas 50%. Dan itupun, uji kelarutan hanya berhasil untuk mendeteksi madu palsu yang telah ditambahkan pengental dan gula, sementara gagal pada madu yang dicampur dengan sagu dan sukrosa.

#5 | Uji reaksi madu dengan korek api     

“. . . celupkan ujung batang korek ke dalam madu, lalu gesekkan sepintas ke permukaan belerang pada korek api. Jika api menyala, maka itu adalah madu asli, karena bersifat mudah terbakar. Sedangkan pada madu palsu, api tidak akan menyala karena kandungan airnya tinggi.”

Koreksi:

Ini adalah cara pengujian paling dungu diantara semua eksperimen populer lainnya.

Pada percobaan tersebut, api bisa saja menyala atau tidak tergantung seberapa lama Anda mencelupkan ujung batang korek api ke dalam madu atau seberapa lama batang korek api terekspos oleh api, tidak peduli madu tersebut asli atau bukan. Sehingga hasil pengujian inipun juga tidak bisa dipercaya.

Jika Anda mencobanya di rumah, cara ini mungkin saja bekerja untuk satu atau dua kali percobaan, tapi hasilnya tidak akan konsisten untuk semua jenis madu dari sumber flora berbeda. Lagi-lagi itu dipengaruhi oleh kadar air pada madu tersebut. Artinya, sifat fisika mudah terbakar tidak mutlak menjadi penanda dari kemurnian madu tersebut.

Bagaimanapun, madu murni tetaplah memilki kandungan air di dalamnya, yang mana pada beberapa jenis madu dengan kandungan air yang cukup tinggi tidak akan mudah terbakar. Sebagai contoh, madu hutan, misalnya, yang teksturnya encer (karena kandungan airnya cukup banyak) akan gagal melewati serangkaian tes ini.

Perlu diingat bahwa kelembaban relatif (Rh) udara di Indonesia cukup tinggi, yaitu berkisar antara 60% hingga 90%.  Sifat madu yang higroskopis akan menarik air dari lingkungan sekitar, sehingga menghasilkan madu dengan kandungan air cukup tinggi, yaitu sekitar 18,3% sampai 33,1%. Madu dengan kandungan air diatas 20% sudah bisa dikatakan encer, sehingga akan mematikan api yang dimasukkan ke dalamnya.

Jadi, jenis-jenis madu murni yang berasal dari nektar tanaman berbeda akan memberikan jangkauan karakteristik yang luas untuk kepadatan, kekentalan, sifat mudah terbakar, rasa manis, dan karakteristik lainnya.

#6 | Uji dengan cara memanaskan madu

“. . . panaskan sesendok madu dengan lilin, lalu amati apa yang terjadi? Jika madu yang dipanaskan tersebut berbuih cukup banyak, itulah madu asli yang anda cari, namun jika tidak berbusa, anda tahu apa yang harus anda lakukan!“

Koreksi:

Uji ini memang cukup populer, namun masih sulit untuk membuktikan kebenaran dari uji ini. Zat larutan yang dibakar tentu saja akan mengalami pertambahan volume, perubahan bentuk atau menguap (sifat fisika fluida), entah itu madu asli ataupun madu palsu.

Dalam hal ini, madu palsu pun juga akan mengeluarkan buih. Sementara madu asli yang disimpan dalam jerigen tertutup dalam waktu agak lama (biasanya lebih dari 1 minggu), bisa mengakibatkan jerigen tersebut kembung atau mengembang. Hal ini disebabkan oleh adanya reaksi enzim alami pada madu yang menghasilkan gas.

Madu asli pun bervariasi, ada yang berbuih atau mengeluarkan gas, dan ada juga yang tidak, lagi-lagi tergantung kadar airnya. Artinya, madu aslipun juga bisa mengeluarkan gas. Madu asli yang tidak mengeluarkan gas biasanya lebih kental dengan kadar air sekitar 17%, kebanyakan merupakan madu impor yang berasal dari Arab atau China.

Sedangkan madu dari Indonesia memiliki kadar air lebih tinggi, bahkan bisa sampai 33,1%. Artinya, jika dilakukan pengujian ini pada madu asli dari Indonesia, maka sangat mungkin akan menghasilkan banyak gas atau buih. Tapi, bagaimana dengan madu asli yang kadar airnya rendah? Tentu akan lebih sulit untuk menguap, bukan?

Sementara itu, baik madu asli ataupun madu palsu apabila dibakar bisa saja sama-sama mengeluarkan buih, tergantung dari jenis pemalsuannya. Tidak semua madu palsu memiliki kandungan air yang rendah, ada juga madu hasil olahan di pasaran yang telah ditambahkan dengan air sehingga volume dan beratnya bertambah (untuk menaikkan keuntungan, tentunya).

Oleh karena itu, cara pengujian ini pun juga kurang bisa dipercaya ketepatan hasilnya.

#7 | Uji dengan memasukkan madu ke dalam kulkas

“. . . masukkan sampel madu yang ingin anda uji keasliannya kedalam kulkas (untuk lamanya bisa dikira-kira saja). Jika madunya mengental atau mengkristal, itulah madu yang asli, karena madu oplosan atau palsu tidak akan mengendap apalagi membentuk kristal jika dimasukkan ke dalam kulkas.“

Koreksi:

Lagi-lagi, sifat mudah atau tidaknya madu membeku (ketika dimasukkan ke dalam kulkas) dipengaruhi oleh kadar air dalam madu tersebut.  Jika kadar airnya tinggi, ya wajar saja membeku. Dan begitu pula sebaliknya. Bahkan, pada kasus madu yang sangat kental dengan kadar air dibawah 18% bisa mengkristal tanpa masuk kulkas.

Selain itu, kadar air pada madu dapat mengalami fluktuasi pada periode musim yang berbeda. Misalnya, lebah hutan flores, NTT, dapat menghasilkan madu yang sangat kental di periode panen April-November karena suhu kelembapan yang sangat rendah. Sedangkan pada periode lainnya, yaitu pada musim hujan, madu yang dihasilkan dapat lebih cair, bahkan hingga 22% kadar airnya.

Berbeda kasusnya dengan madu ternak. Madu ternak pada saat dipanen pada musim hujan, madu akan banyak mengandung air.  Air hujan yang bersifat asam, selain menyebabkan madu cair juga jika teroksidasi oleh udara, sehingga menjadi lebih asam dan akan terfermentasi.

Nah, kedua jenis madu tadi, meskipun termasuk madu murni akan sangat mungkin bereaksi secara berbeda ketika dimasukkan ke dalam kulkas: yang satu akan membeku karena kandungan airnya yang tinggi dan satu lagi tidak.

Selain itu, kristalisasi madu juga dipengaruhi oleh perbandingan jumlah gula pereduksi yang  terdapat dalam madu tersebut. Jika kadar glukosa dan sukrosa lebih besar daripada fruktosa, maka madu akan cepat mengkristal dan memiliki tekstur yang kasar. Pengkristalan madu terjadi karena adanya perubahan kadar gula akibat proses fermentasi dan hidrolisis sukrosa oleh enzim madu.

Jadi, uji keaslian madu dengan cara memasukkan madu ke dalam kulkas ini menjadi tidak relevan dan tidak bisa digunakan begitu saja.

#8 | Uji dengan melihat reaksi semut

“. . . madu palsu yang sudah dicampur dengan pemanis tambahan sudah bisa dipastikan akan menggoda semut untuk berdatangan. Sedangkan, madu yang asli memiliki kandungan enzim yang aromanya cukup mengganggu bagi semut, sehingga tidak akan dikerubuti oleh semut.“

Koreksi:

Hal ini malah berbanding terbalik dengan kenyataannya. Dalam banyak percoban, semut malah tidak dapat membedakan mana madu madu asli dan madu palsu, karena sama-sama mengandung gula. Madu yang dikerubuti oleh semut itu sebenarnya wajar, meskipun memang semutnya tidak sebanyak pada gula.

Selain dioplos dengan pemanis tambahan, madu yang dikerubuti semut bisa juga karena madu itu asli, tetapi lebahnya memakan nektar buah yang mengandung banyak gula.

Dalam beberapa peternakan lebah, ada juga dalam waktu tertentu, para lebah ternak diberi makan air gula. Sehingga, kemungkinan madu yang dihasilkan lebah tersebut akan disukai oleh semut.

Selain itu, tidak menutup kemungkinan jika madu hutan pun bisa dikerubuti semut, karena ada beberapa jenis nektar dari bunga hutan yang juga disukai oleh semut.

#9 | Uji dengan dicampur kuning telur

“. . . campurkan madu dengan kuning telur. Kuning telur yang dicampur dengan madu asli akan terlihat matang. Sedangkan pada madu palsu tidak.“

Koreksi:

Yang sebenarnya terjadi pada proses ini adalah penggumpalan atau koagulasi, bukan pematangan telur oleh madu.

Menurut ilmu biokimia, madu mengandung asam dengan PH 3,4 – 6,1 dan kuning telur mengandung protein. Protein yang dicampur dengan asam akan menggumpal, sehingga telur akan terlihat matang, yang sebenarnya adalah ter-koagulasi.

Kita harus paham bahwa juga banyak madu palsu yang beredar dipasaran mengandung asam. Contohnya asam asetat yang biasa digunakan sebagai pengawet makanan. Zat asam lain yang mungkin ditambahkan adalah cuka atau air dari nanas.

Cara pengujian ini tentu juga akan berhasil bagi madu palsu yang memiliki kadar asam tinggi seperti itu.

Artinya, lagi-lagi cara ini juga tidak layak dijadikan sebagai metode untuk memastikan keaslian madu.

.  .  .

Selain dari ke-11 cara uji keaslian madu seperti di atas, ada juga beberapa metode pengujian lainnya, seperti uji keruh, uji buih, uji segienam, uji ikan mentah, uji bawang dan uji daging. Akan tetapi, cara-cara tersebut sama saja tidak akuratnya, sehingga kurang bisa dipercaya.

Oleh karena itu, rasanya penting untuk diingat bahwa tidak semua madu yang beredar di pasaran adalah madu asli, sehingga kita mesti selektif ketika membelinya. Walaupun memang, sebagian madu hasil olahan tidak serta merta berbahaya untuk kesehatan, akan tetapi berbagai manfaat dari madu yang selama ini kita tahu, bisa dipastikan hanya terdapat pada madu murni.

Baca selanjutnya: Bagaimana Cara Membedakan Madu Asli dan Madu Palsu dengan Benar?


Referensi:

  1. https://www.google.com/amp/s/m.republika.co.id/amp/pcq4yl284
  2. https://www.google.com/amp/s/www.wikihow.com/Verify-the-Purity-of-Honey%3famp=1
  3. https://www.google.com/amp/s/theconversation.com/amp/what-is-fake-honey-and-why-didnt-the-official-tests-pick-it-up-102573
  4. https://www.google.com/amp/s/theconversation.com/amp/what-is-fake-honey-and-why-didnt-the-official-tests-pick-it-up-102573
  5. https://travel.kompas.com/read/2018/10/24/171800727/5-mitos-madu-yang-beredar-di-masyarakat?page=all#page2
  6. https://maduorganik.co.id/blog/2017/09/30/cara-membedakan-madu-asli-dan-madu-palsu-yang-keliru-dan-yang-benar/
  7. https://www.benefits-of-honey.com/pure-honey.html
  8. https://bit.ly/39VM3v5

Tinggalkan Balasan