fbpx

info@dailyhoney.co.id

5 Alasan Kamu Harus Minum Madu Saat Karantina di Tengah Wabah COVID-19

5 Alasan Kamu Harus Minum Madu Saat Karantina di Tengah Wabah COVID-19

Coronavirus Dissease 2019 atau COVID-19 telah mewabah di seluruh dunia, sejak kasus pertama teridentifikasi pada Desember 2019 lalu di Wuhan, China. Penyakit ini disebabkan oleh virus corona jenis baru (SARS-CoV-2) yang diketahui bisa menular dengan cepat dan kemudian berkembang menjadi pandemik global. Setidaknya, sampai sekarang sudah ada 192 negara yang terjangkit dan jumlah kasus aktif pun terus bertambah setiap hari.

Di Indonesia sendiri, jumlah orang yang terinfeksi virus corona hingga Senin (23/03) adalah 579 orang, dengan total pasien sembuh sebanyak 30 orang dan pasien meninggal 49 orang. Dengan angka seperti itu, Indonesia tercatat sebagai negara dengan kasus kematian akibat COVID-19 tertinggi di Asia tenggara dan nomor empat di Asia.

Beberapa gejala yang umum dari penyakit ini antara lain: demam, batuk, kelelahan dan kesulitan bernapas. Dalam kasus yang lebih parah, infeksi dapat menyebabkan pneumonia, sindrom pernapasan akut, gagal ginjal dan bahkan kematian.

Adapun tindakan pencegahan terhadap penyebaran infeksi ini dapat dilakukan dari luar (eksternal) maupun dari dalam (internal). Upaya pencegahan dari luar dapat dilakukan dengan mencuci tangan secara teratur, menutup mulut dan hidung ketika batuk/bersin, menghindari keramaian (social distancing) atau kontak langsung dengan orang yang sakit. Sedangkan upaya pencegahan dari dalam dapat dilakukan dengan menjaga daya tahan tubuh melalui pola hidup sehat. Salah satu caranya adalah dengan berolahraga dan mengkonsumsi makanan/minuman yang kaya dengan anti-oksidan.

Madu dikenal sebagai salah satu minuman bernilai gizi tinggi yang telah teruji secara ilmiah. Penggunaan Madu murni dalam metode treatment penyakit telah secara luas digunakan dalam dunia medis, seperti pada perawatan pasien kanker atau penyembuhan luka sehabis operasi. Madu murni (raw honey) adalah Madu asli yang berasal dari sarang lebah atau diperoleh dari peternakan lebah yang dikemas tanpa melalui proses pengolahan lebih lanjut, seperti pemanasan/pasteurisasi atau ditambahi zat lain.

kandungan nutrisi pada madu
Gambar. Nilai nutrisi per 100 g madu murni

Madu juga bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi bagi tubuh, terutama mungkin bagi Anda yang sibuk bekerja di rumah karena kebijakan kantor Anda dalam mensiasati wabah COVID-19 ini. Selain berguna sebagai sumber energi, Madu juga memiliki beragam manfaat lainnya. Apa sajakah itu? Mari kita simak sebaai ulasan berikut.

#1. Madu dapat meningkatkan imunitas tubuh (anti-oksidan)

Madu mengandung senyawa antioksidan potensial seperti fenol, flavonoid dan juga vitamin C dan asam organik yang dapat menangkal radikal bebas penyebab berbagai penyakit, seperti kolesterol, tekanan darah tinggi, risiko serangan jantung dan stroke. Kandungan antioksidan pada madu bekerja dengan meningkatkan aktivitas pertahanan dan fungsi sel darah merah dalam melawan radikal bebas.

Penelitian dari Michigan State University menyatakan bahwa Madu merupakan pembangun sistem kekebalan tubuh yang efektif dengan karakteristik sebagai anti-oksidan, anti-bakteri, anti-virus, dan anti-peradangan sekaligus.

Baca juga: Benarkah Madu Bisa Tingkatkan Imunitas Untuk Mencegah Infeksi COVID-19?

Sehingga, madu sangat cocok dikonsumsi oleh siapapun yang ingin menjaga performa tubuh selama bekerja atau isolasi diri di rumah untuk mencegah penularan COVID-19. Selain itu, sebagaimana diketahui bahwa resiko kematian akibat infeksi virus ini semakin tinggi pada penderita usia lanjut (60 tahun ke atas), karena pada usia itu sistem kekebalan tubuh sudah melemah. Jadi, konsumsi madu secara rutin juga bagus untuk orang tua Anda di rumah untuk meningkatkan daya tahan tubuh mereka agar tidak gampang sakit. Cukup dengan meminum 1-2 sendok madu setiap hari secara teratur dan tentu juga harus dibarengi dengan olahraga, tidur yang cukup dan kurangi stres.

#2. Madu dapat digunakan sebagai bahan hand sanitizer (anti-mikroba)

Madu juga menunjukkan aktivitas antibakteri yang kuat sehingga dapat diterima dalam penggunaan medis. Sifat antibakteri pada madu berasal dari efek osmotik dan kadar keasaman yang tinggi (pH rendah). Madu memiliki kadar air yang rendah, sehingga dapat memaksa bakteri mengeluarkan air dari dalam tubuhnya sendiri untuk bertahan hidup, sehingga sel-selnya mengkerut dan kemudian mati (efek osmotik).

Madu telah diteliti dengan baik melalui berbagai riset ilmiah karena propertisnya yang teruji dalam membunuh bakteri dan virus. Yang mana, karena sifatnya tersebut madu telah secara luas digunakan sebagai bahan antiseptik yang biasa ditambahkan pada hand sanitizer (sanitasi tangan) untuk membunuh kuman. Dan penggunaan hand sanitizer ini adalah salah satu cara efektif dalam mencegah penyebaran virus corona COVID-19 melalui tangan ke saluran pernapasan.

#3. Madu menghambat aktivitas virus penyebab penyakit (anti-virus)

Virus corona menginfeksi manusia dengan cara membajak sel-sel hidup pada saluran pernapasan dan merusak fungsi paru-paru. Karena itulah penderita yang terinfeksi COVID-19 ini umumnya mengalami gangguan pada pernapasan mereka.

Ada sejumlah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus, dan beberapa diantaranya dapat dicegah dengan madu. Madu dan propolis telah teruji secara efektif bisa mengurangi aktivitas virus influenza type A (penyebab flu dan pilek), virus vricella-zoster (penyebab cacar air), dan virus saluran pernapasan (penyebab asma/bronkitis). Sebagaimana diketahui, beberapa penyakit tersebut merupakan gejala pada penderita COVID-19, meskipun penyebabnya tidak berhubungan secara langsung. Akan tetapi, itu setidaknya bisa mengurangi gejala pada mereka yang yang sakit atau terinfeksi COVID-19. Meskipun, yah, tingkat kematian akibat infeksi virus corona ini lebih tinggai daripada infeksi virus influenza type A.

Jadi, madu dan propolis dapat menjadi alternatif treatment antivirus yang efektif terhadap infeksi saluran pernapasan, seperti flu, asma/bronkitis dan tak terkecuali untuk mengurangi gejala COVID-19. Namun, untuk metode lainnya, seperti penggunaan vaksin yang efektif, adalah masih dibutuhkan sebagai kontrol untuk penyakit ini.

#4. Madu dapat mengurangi gejala batuk dan radang tenggorokan (anti-inflamasi)

Metode treatment dengan mengkonsumsi satu sendok madu secara rutin juga terbukti mengurangi gejala batuk, radang  tenggorokan dan demam.

Penelitian telah menunjukkan adanya korelasi yang kuat antara perbaikan kondisi batuk dan radang tenggorokan dengan sejumlah perawatan menggunakan madu, baik pada anak-anak usia 1-5 tahun maupun orang dewasa. Bahkan madu dapat bekerja lebih baik daripada kebanyakan obat batuk yang terkadang menimbulkan efek samping seperti menimbulkan kantuk. Madu telah dinyatakan aman dan memberikan dampak terhadap  pencegahan gejala batuk dan infeksi saluran pernapasan. Selain itu, madu juga bisa mengurangi sakit pada tenggorongan karena madu juga bersifat anti-inflamasi yang bisa menyembuhkan luka dan peradangan.

Madu juga diketahui mampu meringankan gejala batuk kambuh pada malam hari dan kesulitan tidur karena infeksi saluran pernapasan atas pada anak-anak (tak terkecuali juga orang dewasa). Akan tetapi, perlu diingat bahwa sebelum dikonsumsi sebagai obat batuk, ada baiknya madu dilarutkan ke dalam air hangat terlebih dahulu untuk mengurangi rasa kesat dan tak nyaman di tenggorokan karena tekstur madu yang kental.

#5. Madu propolis dapat menghambat aktivitas virus SARS-CoV-2 menginfeksi sel paru-paru

COVID-19 disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 yang sebelumnya tidak teridentifikasi pada manusia. Sejauh ini, diketahui ada kasus khusus dari beberapa orang terinfeksi COVID-19 yang diberitakan sembuh dengan mengkonsumsi jenis makanan tersebut, meskipun belum diuji secara klinis. Seperti misalnya, seorang pasien dari Inggris yang mengklaim dirinya sembuh dari infeksi COVID-19 dengan mengkonsumsi whisky hangat ditambah madu.

Kini para ilmuwan di China tengah mengusahakan penemuan obat efektif untuk virus COVID-19. Dilansir dari detikcom (4/2), Duta Besar (Dubes) China untuk Indonesia Xiao Qian menyebut para ahli-ahli di China tengah berupaya menggabungkan teknik pengobatan tradisional Tiongkok dan Barat untuk mengatasi penyebaran penyakit akibat infeksi virus COVID-19 tersebut.

Ada sebuah penelitian tentang penngunaan madu propolis yang dikonfirmasi dapat mencegah penyebaran virus penyebab COVID-19. Dilansir dari tempo (4/3), seorang peneliti dari Fakultas Teknik Universitas Indonesia, Muhamad Sahlan, mengembangkan senyawa propolis asli Indonesia sebagai alternatif pengobatan dan pencegahan penyebaran virus corona COVID-19. Senyawa propolis yang dihasilkan dari spesies lebah Tetragonula sp.  berpotensi menjadi penghambat alami bagi virus tersebut untuk bisa menginfeksi sel di paru-paru. Sebagaimana diketahui, virus COVID-19 menempel pada sel hidup sebagai inangnya dan dapat menginfeksi saluran pernapasan (dalam hal ini paru-paru manusia) dan bisa menjalar pada jaringan tubuh lainnya.

Dengan menggunakan rujukan penelitian dari Professor Yang dari Shanghai Tech University pada Januari 2020 lalu, dapat diketahui bagaimana mekanisme penyebaran dan struktur protein dari virus SARS-CoV-2 tersebut. Virus corona itu menempel lalu menyuntikkan struktur genetiknya pada sel hidup untuk berkembang biak. Untuk memutus aktivitas ini, Profesor Yang mengembangkan senyawa kimia penghambat bernama N3 sebagai alternatif obat untuk infeksi COVID-19.

Sebagai perbandingan: dalam penelitiannya, Sahlan menggunakan senyawa propolis lebah Tetragonula sp. untuk melihat bagaimana reaksinya dalam menghambat aktivitas virus tersebut. Menariknya, hasil yang didapatkan persis sama dengan senyawa N3: bahwa senyawa propolis juga dapat menghambat proses menempelnya virus pada sel paru-paru. Senyawa propolis diamati dapat membentuk ikatan pada struktur protein virus SARS-CoV-2 sehingga menghalangi virus tersebut berkembang biak pada sel pernapasan. Dari percobaan yang dilakukan, tiga dari sembilan senyawa yang ada di propolis asli Indonesia memiliki kekuatan menempel yang cukup baik pada virus COVID-19, antara lain propolis Sulawensins a, Sulawensins b, dan deoxypodophyllotoxin.

Muhammad Sahlan merupakan seorang doktor di Universitas Indonesia yang telah meneliti tentang propolis selama sembilan tahun. Meskipun hasil penelitiannya belum diujicobakan secara meluas, metode treatment dengan propolis ini tentu sangat menjanjikan untuk dikembangkan menjadi alternatif obat dari Indonesia untuk menyembuhkan maupun mengurangi perkembangan virus penyebab COVID-19.

Baca juga: Cegah Infeksi COVID-19 Dengan Madu Propolis, Bisakah?

Pemanfaatan bahan herbal untuk melawan wabah penyakit akibat infeksi virus memang bukan pertama kalinya dilakukan. Sebelumnya, pada saat wabah flu burung melanda, tim peneliti di Universitas Airlangga juga pernah merekomendasikan bahan herbal seperti jahe, kunyit, dan temulawak untuk melindungi diri dari infeksi akibat virus H5N1 tersebut. Virus H5N1 (penyebab flu burung) itu disebut lebih mematikan daripada virus COVID-19 yang sekarang mewabah.

. . . . .

Sejauh ini, pada praktiknya penggunaan madu memang belum bisa dijadikan sebagai obat yang efektif untuk menyembuhkan penyakit virus corona, yang mana tentu saja itu memerlukan vaksin dan penelitian lebih lanjut. Akan tetapi, setidaknya madu bisa digunakan sebagai bahan makanan untuk merangsang sistem imun bekerja dengan lebih baik dalam rangka mencegah infeksi akut pada sistem pernapasan oleh virus. Selain juga, penggunaan madu barangkali dapat mengurangi gejala fisik pada pasien ‘suspect’ atau terinfeksi virus corona, seperti batuk, demam, sakit tenggorokan dan sesak napas.

Nah, dengan melihat manfaat dari madu yang bersifat sebagai anti-oksidan, anti-virus dan sumber energi sekaligus, sepertinya madu layak direkomendasikan sebagai bahan makanan wajib untuk memaksimalkan sistem kekebalan tubuh keluarga di rumah dari mencegah infeksi virus corona yang saat ini sedang mewabah.


Referensi:

  1. https://www.who.int/health-topics/coronavirus
  2. https://www.worldometers.info/coronavirus/
  3. https://www.intechopen.com/online-first/health-benefits-of-honey
  4. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5424551/
  5. https://m.detik.com/food/info-kuliner/d-4888064/korban-virus-corona-ini-klaim-sembuh-dengan-minum-whisky-plus-madu
  6. https://www.google.com/amp/s/tekno.tempo.co/amp/1315586/senyawa-propolis-indonesia-bisa-jadi-obat-alternatif-virus-corona

Tinggalkan Balasan