fbpx

info@dailyhoney.co.id

Benarkah Jika Semua Lebah Madu di Dunia Mati, Maka Umat Manusia Akan Punah?

Benarkah Jika Semua Lebah Madu di Dunia Mati, Maka Umat Manusia Akan Punah?

 Apakah Anda pernah mendengar sebuah ungkapan apokalisptik yang cukup populer berikut?

“Jika semua lebah di dunia mati, maka umat manusia hanya punya waktu 4 tahun ke depan untuk bertahan hidup”

– Albert Einstein

Saya rasa, mungkin mayoritas dari Anda yang membaca ini pernah mendengarnya, entah di suatu tempat atau lain cara. Dan kebanyakan dari kita barangkali menganggap bahwa pernyataan tersebut adalah benar, karena… dikatakan… oleh… seseorang… dengan… kredensial… sekelas… Einstein? Iya, siapa tahu barangkali Anda berpikir demikian.

Selain karena asosiasinya dengan nama besar Einstein, pesan dari kutipan tersebut kelihatannya juga logis. Sebagiamana yang pernah kita pelajari dulu di sekolah bahwa lebah membantu penyerbukan pada mayoritas tanaman yang selama ini buahnya biasa kita konsumsi. Jika kepunahan lebah betul terjadi, maka itu berarti tidak ada lagi penyerbukan, tak ada lagi tumbuhan, tak ada lagi hewan dan tak ada lagi makanan sehingga berujung pada kepunahan peradaban manusia.

Sekilas, mungkin logika seperti itu tampak benar.

Akan tetapi, sadar atau tidak, jika ditelaah lebih teliti sebenarnya ada beberapa hal yang mesti diluruskan dari pernyataan pada kutipan tersebut.

Pertama, terlepas dari apakah premisnya benar atau salah, pernyataan tersebut bisa dipastikan tidak bersumber langsung dari mendiang Albert Einstein. Artinya, tidak ada literatur yang secara otentik mengkonfirmasi bahwa Albert Einstein memang pernah mengatakan hal tersebut. Jadi, itu tak lain hanyalah sebuah pernyataan anonim yang secara populer dikreditkan kepadanya. Kutipan tersebut sebenarnya telah muncul sejak 1994 lalu yang dipajang di koran-koran besar dunia dan telah memantik perdebatan mengenai otentisitasnya.

Mengutip dari pernyataan Mark Dykes, inspektur kepala Texas Apiary Inspection Service bahwa:

“Saya tidak pernah melihat bukti nyata yang mengatakan kata-kata soal lebah itu sebagai kutipan dari Einstein.”

Para ahli pemeriksa kutipan pun semua menyimpulkan kalimat soal lebah itu tak pernah diucapkan sang fisikawan jenius tersebut.

Kedua, walaupun memang lebah membantu terhadap 84% penyerbukan tanaman pangan yang ada di alam, agaknya terlalu berlebihan jika mengatakan bahwa kepunahan lebah akan langsung berimbas pada kepunahan manusia. Sebagai pengetahuan saja, lebah bukanlah satu-satunya serangga atau faktor alam yang melangsungkan penyerbukan pada tumbuhan (ada juga kelelawar, burung, kupu-kupu dan beberapa jenis lalat). Bahkan, makanan pokok kita dari tanaman pangan seperti jagung, gandum, dan padi malah diserbuki oleh angin. Jadi, hilangnya lebah dari ekosistem tidak akan mengancam kelangsungan bahan pangan pokok dunia, sehingga kita tetap dapat bertahan hidup setelah bencana tersebut.

Akan tetapi, fakta itu tidak serta merta menyanggah peran penting lebah dalam kehidupan manusia. Biarpun lebah bukan satu-satunya penyerbuk dalam ekosistem, mereka adalah yang terbaik dalam urusan penyerbukan. Ini karena mereka membutuhkan serbuk sari untuk memberi makan bayi-bayi mereka, jadi secara biologis memang mereka terdorong untuk melakukan tugas ini. Jenis penyerbuk lainnya menyambangi bunga hanya untuk menghisap madu atau serbuk sari semata. Selain menghasilkan madu, sebagian tanaman berbuah seperti almond, persik, plum, apel, tomat, ceri dan lain sebagainya diserbuki oleh lebah.

Bahkan, sebuah permodelan analisis pasar tanaman dunia menemukan bahwa peran lebah sebagai penyerbuk sangat vital bagi 91 sumber makanan manusia, 80% bunga liar dan 84% hasil panen. Jadi, walaupun sumber makanan pokok kita tidak diserbuki oleh lebah, namun dengan hilangnya lebah dari muka Bumi akan membuat kita kehilangan banyak sumber makanan bernutrisi yang menjadi pilar penting dalam diet sehat kita.

Memang, pada dasarnya manusia bisa merancang teknologi untuk melakukan penyerbukan buatan pada lahan pertanian, akan tetapi hal itu akan memerlukan biaya produksi dan pengoperasian alat yang sangat mahal. Sebagai contoh, di Inggris, misalnya, koloni lebah bahkan menyumbang nilai ekonomi sekitar £510 juta (Rp 9,7 triliun) per tahunnya karena memabntu meningkatkan produktivitas pertanian seklaigus sebagai kompesaasi dalam menggantikan peran teknologi terhdap penyerbukan lahan. Dan lebah melakukan itu semua secara sukarela.

Tanaman seperti tomat, terong dan kiwi memiliki serbuk sari yang lengket dan lebahlah satu-satunya binatang di Inggris yang dapat membuat mereka berpisah dengan serbuk sarinya, lebah menggetarkan otot terbang mereka untuk melepaskannya.

Sekali lagi, lebah adalah penyerbuk alami yang sangat efektif dan tanpa disadari kita telah berhutang banyak pada mereka.

.  .  .

Akan tetapi, muncul pertanyaan selanjutnya yang tak kalah penting, “Apakah bencana ekologis seperti kepunahan spesies lebah mungkin terjadi?

Jawabannya adalah iya, walapun prosesnya tidak terjadi dalam semalam. Dan sialnya lagi, bencana ini mungkin akan benar-benar terjadi dalam beberapa dekade ke depan jika keadaan terus memburuk. Para ilmuwan menyebut fenomena ini dengan istilah Colony Collapse Disorder/CDC atau bencana runtuhnya koloni.

Bahkan salah seorang peneliti lebah yang memiliki laboratorium di UC Davis, California, Elina L. Nino mengungkapkan bahwa,

“Hanya karena kita jarang melihat CCD bukan berarti nasib lebah madu baik-baik saja. Ada banyak masalah lain yang dihadapi lebah madu dan para petani lebah dan setiap tahunnya kita masih kehilangan ribuan koloni lebah”

Data perkiraan populasi lebah di Inggris menunjukkan adanya pukulan hebat dalam delapan dekade terakhir. Sekitar 97% dari habitat bunga liar yang kaya yang pernah menutupi lanskap Inggris telah lenyap sejak 1930-an, sebagian besar karena metode pertanian modern dan perluasan kota.

Baik lebah Cullem dan lebah berambut pendek sejak itu telah punah, sementara lebah kuning besar dan lebah carder yang cemberut sekarang sangat terancam.

Telah banyak studi yang secara khusus meniliti tentang bencana yang tengah menimpa lebah madu ini. Merosotnya jumlah koloni lebah di dunia disebabkan oleh beberapa faktor, seperti gangguan tungau parasit (tungau varrao), penggunaan insektisida, perluasan pemukiman manusia dan perubahan iklim.

Beberapa negara maju seperti Amerika Serikat, Inggris dan Uni Eropa telah menempuh beberapa langkah preventif untuk menyelamatkan lebah dari bayangan kepunahan ini, seperti memberlakukan pelarangan penggunaan pestisida bagi petani lebah yang diketahui dapat mengganggu produktivitas dan kelangsungan hidup lebah madu. Dan larangan tersebut mungkin akan terus diperbaharui selagi ditemukan fakta-fakta baru tentang efek pestisida yang berhasil diungkap oleh penelitian.

Jadi, kebijakan pemerintah dalam meregulasi penggunaan pestisida sangatlah vital untuk menjaga kelestarian populasi lebah, sehinga mereka tetap bisa produktif dalam melakukan tugas penting penyerbukan di alam.

.  .  .

Nah, kembali ke pertanyaan awal: “Apakah kepunahan lebah madu akan sekaligus mendesak manusia di ambang kepunahan?” Jawaban singkatnya mungkin adalah “tidak”, walaupun kalau dijabarkan lagi bisa lebih rumit dari itu. Tapi yang jelas, kevalidan dari pernyataan apokalipstik tersebut memang dinilai problematis. Bukan hanya karena asosiasinya dengan Einstein dipertanyakan, tapi juga isi pesannya tidak didukung oleh fakta-fakta saintifik, yang mana kemungkinan besar umat manusia akan terus bertahan seandainya lebah betul-betul punah.

Tentu saja, kita tidak mengharapkan hal itu terjadi.


Referensi:

  1. https://www.google.com/amp/s/www.bbc.com/indonesia/amp/majalah-51409726
  2. https://www.google.com/amp/s/www.voaindonesia.com/amp/punahnya-lebah-dan-serangga-liar-dapat-bahayakan-pasokan-pangan-dunia/4929194.html
  3. https://www.bbc.com/indonesia/vert-earth-45611902
  4. https://www.google.com/amp/s/amp.kompas.com/sains/read/2012/12/19/20570889/Albert.Einstein.Tentang.Hilangnya.Lebah
  5. https://www.google.com/amp/s/www.vice.com/amp/id_id/article/534b3q/apa-yang-terjadi-jika-semua-lebah-di-bumi-tiba-tiba-musnah

Tinggalkan Balasan