fbpx

info@dailyhoney.co.id

Benarkah Madu Bisa Tingkatkan Imunitas Untuk Mencegah Infeksi COVID-19?

Benarkah Madu Bisa Tingkatkan Imunitas Untuk Mencegah Infeksi COVID-19?

Apa itu “COVID-19”?

COVID-19 atau kepanjangan dari Corona Virus Dissease 2019 adalah nama resmi yang ditetapkan oleh WHO untuk jenis penyakit yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 (termasuk ke dalam famili koronavirus) yang dapat menginfeksi saluran pernapasan pada manusia. Penyakit ini pertama kali diidentifikasi pada Desember 2019 lalu di Wuhan, China dan sampai saat ini telah mewabah ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. Pada 11 Maret 2020  lalu, WHO telah menetapkan COVID-19 sebagai wabah penyakit global (pandemik).

Jadi, COVID-19 ini adalah nama penyakit yang disebabkan oleh virus corona jenis SARS-CoV-2. Dan virus corona adalah nama spesifik untuk famili virus yang lebih luas yang menginfeksi saluran pernapasan manusia, seperti SARS (2003) dan MERS (2012) dan COVID-19 (2019). Ukuran virus corona sangat kecil, bahkan lebih kecil daripada bakteri. Disebut virus corona karena  penampakan virus tersebut terlihat seperti bundaran yang dikelilingi oleh struktur protein seperti paku atau mahkota (corona dalam bahasa latin berarti crown atau mahkota).

struktur virus corona
Gambar. Struktur virus corona (asm.org)

Ada dugaan kuat bahwa virus SARS-CoV-2 ini berasal dari hewan tertentu yang kemudian bisa menular kepada manusias. Hal ini diperkuat dengan temuan pada genom (struktur genetik) koronavirus yang mewabah saat ini ternyata 96% cocok dengan koronavirus yang terdapat pada kelelawar. Beberapa virus pada hewan diketahui tidak berbahaya bagi manusia, karena secara kebetulan sel inangnya memang tidak cocok saja dengan tubuh kita secara biologis. Akan tetapi, ketika beberapa jenis virus tertentu berpindah sel inang dari hewan ke manusia dapat memicu terjadinya mutasi genetik dan menyebabkan wabah penyakit seperti yang terjadi pada saat ini.

Bagaimana cara virus SARS-CoV-2 menginfeksi manusia?

Secara biologi, virus tidak dikelompokkan sebagai makhluk hidup, akan tetapi virus memiliki struktur DNA atau RNA yang berguna untuk memperbanyak diri. Virus corona, sebagaimana virus pada umumnya, tidak dapat berkembang biak kecuali dengan menginfeksi makhluk hidup yang dijadikan sebagai media perantara atau sel inangnya.

Virus corona berukuran sangat kecil dengan diameter 100-120 nanometer. Jika diamati di bawah mikroskop elektron, virus corona terlihat seperti struktur bundar yang permukaannya dikelilingi oleh protein S (spike protein) yang meyerupai paku atau mahkota. Nah, protein S inilah yang menempel pada reseptor di sel pernapasan manusia pada saat menginfeksi, yang disebut sebagai angiotensin-converting enzyme 2 atau ACE 2. Cara kerjanya menurut Liang Tao seorang peneliti dari Westlake University adalah,

“Jika tubuh manusia diibaratkan sebagai rumah dan virus corona sebagai karet, maka ACE 2 adalah pegangan pintu menuju rumah tersebut. Saat protein S di struktur virus corona menempel di ACE 2, maka pintu menuju tubuh manusia langsung terbuka lebar.”

Nah, kabar baiknya adalah struktur virus ini memiliki ikatan yang lemah antara protein, asam nukleat (DNA/RNA) dan lipid (lemak yang menutupi lapisan luar virus). Sehingga, sangat mungkin untuk memecah partikel virus ini dengan sabun, yang baik dalam melarutkan lapisan lipid pada virus. Ini juga menghancurkan semua ikatan lemah di dalam virus dengan cara mengikat senyawa lemak dan menyebabkannya terlepas dari virus, sehingga virus secara efektif akan hancur berantakan. Karena itulah, penggunaan sabun, hand sanitizer, pelarut lemak atau disinfektan dianjurkan untuk mencegah peneyabaran virus corona.

Selain itu, beberapa obat alternatif yang dikembangkan untuk COVID-19, seperti senyawa N3 atau madu propolis juga menggunakan prinsip serupa. Yaitu dengan cara mengikat struktur protein pada virus sehingga menghambat aktivitas menempelnya virus pada sel hidup manusia, khususnya saluran pernapasan. Sedangkan, pengembangan vaksin atau obat antivirus untuk COVID-19 sedang diupayakan di beberapa negara sampai saat ini, atau paling tidak menunggu diujicobakan pada manusia.

Baca juga: Cegah Infeksi COVID-19 dengan Madu Propolis, Bisakah?

COVID-19 merupakan jenis penyakit yang bisa menular dengan cepat, meskipun secara statistik tingkat kematian akibat infeksi virus tersebut terbilang rendah. Salah satu penelitian mengungkapkan bahwa setiap orang yang terinfeksi dapat menyebarkan virus ke antara 3 hingga 5 orang. Selain itu, virus ini diketahui mampu menular dalam rantai infeksi sebanyak 4 orang. Kalau seperti itu, pada kondisi normal (tanpa social distancing), 1 orang yang terinfeksi bisa menularkan maksimal ke 5 orang di sekitarnya, lalu 5 orang tadi menularkan ke 25 orang lainnya, dan 25 orang tersebut menularkannya lagi ke 125 orang berikutnya, dan begitu sampai seterusnya. Jadi, tak heran kalau virus ini dapat mewabah dengan luas dan berkembang menjadi pandemik.

Penularan virus corona pada manusia dapat melalui berbagai cara. Biasanya adalah lewat  kontak langsung dengan penderita COVID-19 melalui percikan saat si penderita batuk, bersin atau berbicara ataupun melalui kontak dengan tangan, permukaan atau objek yang terkontaminasi virus. Waktu jeda antara seorang yang terekspos virus dan ketika gejala pertama muncul adalah biasanya 5 – 6 hari, meskipun dapat berkisar dari 2 – 14 hari. Untuk alasan ini, orang-orang yang telah mengadakan kontak dengan kasus yang terkonfirmasi diminta untuk mengisolasi diri selama 14 hari.

Kebanyakan kasus COVID-19 muncul karena tertular dari orang-orang yang memiliki gejala. Sejumlah kecil orang-orang telah terinfeksi bahkan sebelum gejalanya berkembang. Gejala yang umum terjadi pada penderita yang terinfeksi yaitu mengalami demam, batuk, hidung berair, bersin-bersin, sesak napas dan gejala lainnya. Dalam beberapa kasus, infeksi dapat menyebabkan pneumonia dengan gangguan pernapasan yang akut. Beberapa penelitian terbaru menyatakan bahwa virus corona bahkan masih bertahan dalam tubuh manusia selama 37 hari.

Bagaimana seseorang bisa sembuh dari infeksi COVID-19?

Jika dilihat secara statistik global (sejauh ini dengan data yang kita punya), tingkat kematian akibat COVID-19 terbilang rendah, dimana selalu berkisar antara 2-5% dari total kasus yang ada. Sementara 95-98% sisanya mengalami gejala dari tingkat sedang sampai dengan kritis, dan kurang lebih setengah diantaranya dinyatakan sembuh (kecuali, mungkin di Indonesia). Hal itu berarti, rata-rata dari 100 kasus yang positif COVID-19, kira-kira 2 – 5 orang diantaranya meninggal, 95-98 orang sisanya dalam kondisi, dan sekitar 30 atau 40-an orang dinyatakan sembuh.

Nah, pernyataannya bagaimana si penderita bisa dinyatakan sembuh?

Sistem kekebalan tubuh adakah faktor kuncinya disini. Data menunjukkan bahwa pasien pada usia produktif dengan sistem kekebalan tubuh yang baik dan tanpa penyakit penyerta, memiliki peluang sembuh paling tinggi.

Sistem imun kita terdiri atas miliaran sel: antibodi (penyerang), sel memori (intelijen), dan sel-B (pabrik senjata). Pada saat virus corona jenis SARS-CoV-2 menginfeksi untuk pertama kalinya, tubuh kita akan bereaksi dengan sel imun non-spesifik sebagai pertahanan standar. Virus yang menyebabkan infeksi COVID-19 ini merupakan jenis virus corona yang baru teridentifikasi, dimana tubuh kita belum membentuk kekebalan khusus (sel imun spesifik) untuk melawannya. Sehingga, perlu waktu bagi imunitas tubuh untuk memetakan informasi mengenai virus tersebut ke dalam sel memori. Selagi sel memori mengenali virus yang masuk, ada harga yang harus kita bayar. Virus akan telah menginfeksi sel-sel hidup pada paru-paru kita yang menyebabkan kerusakan (ditandai dengan gejala sindrom pada saluran pernapasan). Begitu virus sudah dikenali oleh sel memori, maka antibodi akan diaktifkan untuk menyerang sel-sel hidup yang telah terinfeksi oleh virus. Proses ini biasanya memakan waktu sekitar 14 hari bagi tubuh kita (ditandai dengan naik-turunnya  gejala).

Nah, ketika seseorang yang pernah terinfeksi COVID-19 dan kemudian dapat bertahan hidup atau sembuh, maka tubuhnya secara alami telah membentuk imunitas spesifik untuk melawan virus SARS-CoV-2. Sehingga, ketika virus itu menginfeksi tubuh untuk kedua kalinya, sel memori akan langsung mengenali virus tersebut dan seketika antibodi akan diaktifkan dalam 24 jam untuk membasmi virus tersebut (tidak perlu lagi menunggu waktu). Dengan kata lain, virus yang sama tidak akan lagi menginfeksi atau berakibat fatal bagi kita untuk seterusnya, karena orang tersebut secara alami sudah kebal terhadap virus tersebut. Begitulah prinsip kerja dari imunitas tubuh kita.

Silahkan tonton video di bawah ini untuk memahami lebih lanjut bagaimana sistem imun tubuh bekerja:

Nah, jika sistem kekebalan tubuh kita melemah karena faktor usia, gaya hidup yang tidak sehat atau komplikasi penyakit, maka performa sel imun kita dalam melawan infeksi virus akan berkurang. Virus akan lebih leluasa membajak sel-sel hidup pada paru-paru untuk memperbanyak diri melebihi kemampuan sel imun. Sehingga sebelum antibodi diproduksi untuk menyerang sel yang telah terinfeksi, virus telah lebih dulu merusak jaringan tubuh yang lebih luas sehingga berakibat fatal. Pada kasus ini, penderita bisa berakhir kritis atau meninggal. Oleh karena itu, tindakan penting yang perlu dilakukan adalah meningkatkan sistem kekebalan tubuh kita yang dibarengi dengan standar pencegahan yang telah disarankan oleh WHO atau Kementrian Kesehatan RI.

pencegahan virus corona
Gambar. Gejala dan pencegahan virus corona (ayobandung.com)

Benarkah madu bisa meningkatkan sistem kekebalan tubuh untuk mencegah COVID-19?

Beberapa jenis makanan seperti curcumin (jahe, kunyit, temulawak), bawang putih, bayam, brokoli, bluberi, almond, madu dan sebagainya telah teruji dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh karena mengandung vitamin A, C, E dan senyawa antioksidan. Diantara jenis makanan tersebut, madu murni adalah bahan makanan alami yang paling banyak diteliti manfaatnya terhadap kesehatan. Madu murni adalah madu asli yang berasal dari sarang lebah atau dipeoleh dari peternakan langsung tanpa melalui proses pengolahan lebih lanjut (seperti pemanasan atau pasteurisasi).

Madu murni (raw honey) mengandung senyawa antioksidan seperti fenol dan falvonoid yang dapat menangkal radikal bebas penyebab berbagai penyakit, seperti kolesterol, tekanan darah tinggi, risiko serangan jantung dan stroke. Semakin gelap dan kental tektur madu, semakin tinggi kandungan antioksidannya. Penelitian dari Michigan State University menyatakan bahwa madu merupakan pembangun sistem kekebalan tubuh yang efektif dengan karakteristik sebagai anti-oksidan, anti-bakteri, anti-virus, dan anti-peradangan sekaligus. Selain itu, madu juga bisa dikonsumsi sebagai sumber energi bagi tubuh karena mengandung karbohidrat kompleks.

Madu telah diteliti dengan baik melalui berbagai riset ilmiah karena propertisnya yang teruji dalam membunuh bakteri dan virus. Yang mana, karena sifatnya tersebut madu telah secara luas digunakan sebagai bahan disinfektan yang biasa ditambahkan pada hand sanitizer (sanitasi tangan) untuk membunuh kuman. Dan penggunaan hand sanitizer ini adalah salah satu cara efektif dalam mencegah penyebaran virus corona melalui tangan ke saluran pernapasan.

Selain itu, madu dan propolis juga telah teruji secara efektif bisa mengurangi aktivitas virus influenza type A (penyebab flu dan pilek), virus vricella-zoster (penyebab cacar air), dan virus sintetik pernapasan (penyebab asma/bronkitis). Metode treatment dengan mengkonsumsi satu sendok madu secara rutin juga terbukti mengurangi gejala batuk, radang  tenggorokan dan demam (lihat pada catatan kaki). Sebagaimana diketahui, beberapa penyakit tersebut merupakan gejala pada penderita COVID-19, meskipun tidak berhubungan secara langsung.

Sejauh ini, penggunaan madu pada praktiknya memang belum bisa dijadikan sebagai obat langsung untuk penyakit akibat infeksi COVID-19. Akan tetapi, setidaknya madu bisa digunakan sebagai bahan makanan untuk merangsang sistem imun bekerja dengan lebih baik untuk mencegah infeksi akut akibat virus. Selain juga, penggunaan madu barangkali juga dapat mengurangi gejala fisik pada pasien ‘suspect’ atau yang positif terinfeksi virus corona, seperti batuk, demam, sakit tenggorokan.

Nah, dengan melihat manfaat dari madu yang bersifat sebagai anti-oksidan, anti-virus dan sumber energi sekaligus, sepertinya madu layak direkomendasikan sebagai bahan makanan wajib untuk memaksimalkan sistem kekebalan tubuh keluarga di rumah dari mencegah infeksi virus corona yang saat ini sedang mewabah.

Bagaimana perkembangan kondisi COVID-19 dan tindakan yang perlu dilakukan sampai saat ini?

Berdasarkan data statistik WHO per 22 Maret 2020, secara global terdapat 308.231 orang yang dinyatakan positif terjangkit COVID-19, dengan detailnya 95.826 orang dinyatakan sembuh (31%), 199.338 orang masih dalam kondisi (65%) dan 13.067 orang lainnya meninggal (4%). Di Indonesia, jumlah orang yang terinfeksi virus corona hingga Sabtu (21/03) adalah 450 orang, dengan total pasien sembuh sebanyak 20 orang (4.5%), dan pasien meninggal sebanyak 38 orang (8.5%), 392 orang lainnya masih dalam kowndisi (87%).

Dengan total kasus dan tingkat kematian seperti itu, Indonesia menjadi negara dengan kasus COVID-19 tertinggi di Asia Tenggara. Persentase orang meninggal saja melampui rata-rata statistik global, bahkan jumlahnya pun melebihi penderita yang sembuh. Hal itu setidaknya menunjukkan tiga hal bagi kita. Pertama, data itu bisa jadi bias karena masih banyak orang Indonesia yang belum/tidak memeriksakan diri (underdiagnosed), meskipun secara teknis sudah terinfeksi virus. Hal itu menyebabkan persentase pasien meninggal menjadi tinggi. Kedua, sistem pelayanan kesehatan publik kita yang masih buruk, sehingga pasien terinfeksi dengan kondisi kritis tidak mendapatkan perawatan maksimal. Ketiga, masih banyak masyarakat yang menganggap remeh penularan virus tersebut dengan mengabaikan tindakan pencegahan COVID-19, sehingga jumlah orang terinfeksi semakin bertambah. Semakin banyak orang terinfeksi, maka jumlah penderita yang berpeluang mengalami kondisi kritis hingga meninggal juga semakin tinggi.

Meskipun kita terus diimbau agar tidak panik menghadapi pandemik yang saat ini sedang mewabah, kita seharusnya juga dituntut untuk tetap waspada dan mengedukasi diri sendiri demi mencegah menularnya virus ke lebih banyak orang. Sekali lagi, tingkat kematian (fatality rate) akibat COVID-19 terbilang kecil jika dibandingkan wabah penyakit yang pernah terjadi oleh infeksi virus dalam famili yang sama, seperti SARS (2003) atau MERS (2012). Akan tetapi, virus ini dapat menular dengan cepat dan masif. Jika saat ini Anda masih dalam keadaan baik-baik saja atau belum terinfeksi, maka teruslah lakukan tindakan pencegahan seperti mencuci tangan dengan sabun/hand sanitizer secara teratur, menghindari keramaian (social distancing) dan kontak langsung dengan penderita, menutup mulut dan hidung pada saat batuk/bersin, membersihkan objek yang sering disentuh dengan disinfektan yang aman digunakan serta menjaga sistem kekebalan tubuh dengan mengkonsumsi makanan/minuman yang banyak mengandung vitamin C, vitamin E dan khususnya madu.

Semoga Anda dan keluarga selalu dalam keadaaan sehat dan terhindar dari wabah penyakit. Terakhir, tetap waspada dan jangan panik, kiamat juga masih jauh.


Referensi:

  1. https://www.who.int/health-topics/coronavirus
  2. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5424551/
  3. https://www.health.nsw.gov.au/Infectious/alerts/Pages/coronavirus-faqs.aspx
  4. https://www.google.com/amp/s/www.mirror.co.uk/lifestyle/health/7-ways-improve-your-immune-21580462.amp
  5. https://www.smileyhoney.com/blogs/wellness/five-health-benefits-from-raw-honey
  6. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5424551/
  7. https://www.intechopen.com/online-first/health-benefits-of-honey

Tinggalkan Balasan