fbpx

info@dailyhoney.co.id

Cegah Infeksi COVID-19 Dengan Madu Propolis, Bisakah?

Cegah Infeksi COVID-19 Dengan Madu Propolis, Bisakah?

Awal tahun ini kita sudah dikejutkan dengan wabah virus corona (COVID-19) yang diketahui telah menyebar ke berbagai negara di seluruh dunia, bahkan termasuk Indonesia. Paparan virus yang pertama kali dilaporkan dari Wuhan, China Desember 2019 lalu telah dinyatakan WHO secara resmi sebagai wabah epidemi global.

Data WHO per 14 Maret 2020 mencatat total kasus yang dilaporkan positif virus corona secara global adalah 155.862 kasus yang tersebar di 128 negara dengan jumlah korban meninggal diantaranya 5.815 orang (lihat di catatan kaki). Diperkirakan jumlah itu akan terus bertambah seiring ditemukannya laporan-laporan baru mengenai infeksi virus tersebut, yang sebagaimana diketahui dapat menular.

Di Indonesia sendiri, sampai artikel ini ditulis, setidaknya sudah ada 117 orang pasien yang dinyatakan positif terinfeksi virus corona melalui hasil uji lab Rumah Sakit, dengan jumlah pasien meninggal sebanyak 5 orang (data Media Center COVID-19 RI). Kita tentu berharap mudah-mudahan tidak lagi korban lain yang berjatuhan atau setidaknya hal ini bisa ditangani dengan tepat oleh pemerintah.

Adakah hal lain yang perlu dikhawatirkan?

Kecemasan sebagai reaksi biologis barangkali merupakan hal yang normal. Itu adalah cara alamiah otak kita merespon sesuatu yang dianggap sebagai ancaman atau bahaya. Akan tetapi, kepanikan yang terjadi akibat ketidaktahuan atau kurangnya edukasi justru adalah masalah lain.

Satu hal yang perlu kita ingat disini adalah risiko kematian akibat virus corona terbilang kecil kalau dilihat secara statistik. Sejauh ini, hanya 2 – 4% tingkat kematian yang diakibatkan oleh infeksi virus corona dan itu pun risiko kematian paling tinggi adalah pada orang lanjut usia dan pasien dengan penyakit penyerta. Artinya, rata-rata dari setiap 100 kasus infeksi virus korona yang terjadi, hanya 2-4 orang diantaranya yang meninggal (data Menteri Kesehatan RI).

Akan tetapi, meremehkan wabah penyakit karena risiko kematiannya yang rendah juga adalah sikap gegabah yang patut dikritik. Apalagi, sampai sekarang para ilmuwan belum menemukan obat atau antibiotik yang secara efektif dapat menyembuhkan infeksi virus tersebut. Selain itu, virus ini juga dapat menyebar luas dengan cepat. Gejala yang umum diderita pasien Covid-19, seperti flu ringan, batuk, demam, radang tenggorokan dan sesak napas dapat menganggu produktivitas di penderita dan dilaporkan sebanyak 8-14% kasus diantaranya bisa sampai kritis (mengalami peradangan paru-paru).

Lalu, apa yang perlu kita lakukan untuk mengatasinya?

Barangkali tak ada yang lebih baik daripada mencegah daripada mengobati penyakit yang belum ada obatnya. Kecuali mungkin bagi pasien yang ‘diduga’ ataupun telah dinyatakan positif terinfeksi COVID-19, tak ada cara selain harus dirawat di Rumah Sakit rujukan untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Adapun bagi yang tidak/belum terinfeksi, tindakan pencegahan yang dapat dilakukan adalah:

  1. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir selama 20 detik sebelum menyentuh area wajah dan sesudah menyentuh fasilitas umum, batuk/bersin, membuang masker.
  2. Membersihkan rumah/kantor dan barang-barang yang sering dipegang.
  3. Menjaga jarak aman sekitar 2-3 meter dengan orang lain yang mengalami bersin, batuk-batuk atau meludah.
  4. Menghindari pusat keramaian untuk sementara.
  5. Meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

Untuk langkah pencegahan nomor 1-4 mungkin mudah untuk dilakukan, lalu bagaimana dengan nomor 5? Perlukah kita meningkatkan sistem kekebalan tubuh agar tubuh kita jadi lebih kuat melawan penyakit akibat infeksi bakteri dan virus?

 Alasan mengapa kebanyakan pasien meninggal akibat terinfeksi COVID-19 dari orang lanjut usia (usia 40 tahun ke atas) adalah karena kondisi tubuh yang rentan akibat melemahnya sistem kekebalan tubuh oleh faktor usia. Selain itu, beberapa pasien dengan riwayat penyakit jantung, diabetes, pneumonia dan kanker juga diketahui menghadapi risiko tingkat kematian yang lebih tinggi daripada pasien tanpa penyakit penyerta.

Salah satu cara untuk mengantisipasi penyakit akibat infeksi virus corona COVID-19 adalah dengan meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Perlu kita ketahui, selagi belum ditemukannya vaksin untuk mengobati penyakit ini, tubuh kita secara alami tidak bisa membentuk imunitas khusus untuk melawan virus COVID-19 ini jika terinfeksi. Hanya orang yang telah telah sembuh dari infeksi virus tersebut yang dapat membentuk imunitas khusus untuk melawan jenis virus yang sama. Maka dari itu, mereka yang belum terinfeksi cuma bisa memaksimalkan tindakan pencegahan dari luar dan dalam untuk meminimalisir risiko.

Mengkonsumsi madu propolis dapat mencegah infeksi COVID-19?

Selain dengan olahraga dan kualitas tidur yang baik, mengkonsumsi beberapa jenis makanan tertentu diketahui dapat meningkatkan imunitas tubuh. Bahan herbal seperti jahe, kunyit, bawang putih, temulawak dan madu secara tradisional efektif melindungi tubuh dari infeksi bakteri dan virus karena mengandung anti-oksidan tinggi dan bersifat anti-mikroba.

Sejauh ini, memang ada kasus khusus dari beberapa orang terinfeksi Covid-19 yang diberitakan sembuh dengan mengkonsumsi jenis makanan tersebut, meskipun belum diuji secara klinis. Seperti misalnya, pelajar Indonesia di Wuhan, China yang menyatakan dirinya sembuh setelah melakukan beberapa treatment dengan jahe dan bawang putih. Atau seorang pasien dari Inggris yang mengklaim dirinya sembuh dari infeksi Covid-19 dengan mengkonsumsi whisky hangat ditambah madu.

Kini para ilmuwan di China tengah mengusahakan penemuan obat efektif untuk virus COVID-19. Dilansir dari detikcom (4/2), Duta Besar (Dubes) China untuk Indonesia Xiao Qian menyebut para ahli-ahli di China tengah berupaya menggabungkan teknik pengobatan tradisional Tiongkok dan Barat untuk mengatasi penyebaran penyakit akibat infeksi virus COVID-19 tersebut.

Khusus untuk madu, sebenarnya sudah ada penelitian yang dikonfirmasi dapat mencegah penyebaran virus COVID-19. Dilansir dari tempo (4/3), seorang peneliti dari Fakultas Teknik Universitas Indonesia, Muhamad Sahlan, mengembangkan senyawa propolis asli Indonesia sebagai alternatif pengobatan dan pencegahan penyebaran virus corona COVID-19. Senyawa propolis yang dihasilkan dari spesies lebah Tetragonula biroi aff  berpotensi menjadi penghambat alami bagi virus tersebut untuk bisa menginfeksi sel di paru-paru. Sebagaimana diketahui, virus Covid-19 menempel pada sel hidup sebagai inangnya dan dapat menginfeksi saluran pernapasan (dalam hal ini paru-paru manusia).

Dengan menggunakan rujukan penelitian dari Professor Yang dari Shanghai Tech University pada Januari 2020 lalu, dapat diketahui bagaimana mekanisme penyebaran dan struktur protein dari virus covid-19 tersebut. Virus menempel lalu menyuntikkan struktur genetiknya pada sel hidup untuk berkembang biak. Untuk memutus aktivitas ini, Profesor Yang mengembangkan senyawa kimia penghambat bernama N3 sebagai alternatif obat untuk infeksi COVID-19.

Sebagai perbandingan, dalam penelitiannya Sahlan menggunakan senyawa propolis lebah Tetragonula biroi aff  untuk melihat bagaimana reaksinya dalam menghambat virus tersebut. Menariknya, hasil yang didapatkan persis sama dengan senyawa N3: senyawa propolis juga dapat menghambat proses menempelnya virus pada sel hidup. Senyawa propolis diamati dapat membentuk ikatan pada struktur protein virus COVID-19 sehingga menghalangi virus tersebut berkembang biak pada sel hidup.

Dari percobaan yang dilakukan, tiga dari sembilan senyawa yang ada di propolis asli Indonesia memiliki kekuatan menempel yang cukup baik pada virus COVID-19, antara lain propolis Sulawensins a, Sulawensins b, dan deoxypodophyllotoxin.

lebah trigona sp.
Gambar: Spesies lebah Trigona sp. penghasil propolis

Sebagai pengetahuan, Muhammad Sahlan merupakan seorang doktor di Universitas Indonesia yang telah meneliti tentang propolis selama sembilan tahun. Meskipun hasil penelitiannya belum diujicobakan secara meluas, metode treatment dengan propolis ini tentu sangat menjanjikan untuk dikembangkan menjadi alternatif obat dari Indonesia untuk menyembuhkan maupun mengurangi perkembangan virus COVID-19.

Pemanfaatan bahan herbal untuk melawan wabah penyakit akibat infeksi virus memang bukan pertama kalinya dilakukan. Sebelumnya, pada saat wabah flu burung melanda, tim peneliti di Universitas Airlangga juga pernah merekomendasikan bahan herbal seperti jahe, kunyit, dan temulawak untuk melindungi diri dari infeksi akibat virus H5N1 tersebut. Virus H5N1 (penyebab flu burung) itu disebut lebih mematikan daripada virus COVID-19 yang sekarang mewabah.

Oleh karena itu, selagi belum ditemukannya vaksin untuk mengobati infeksi akibat virus COVID-19 tersebut, ada baiknya kita melakukan tindakan-tindakan penanganan/pencegahan yang telah teruji dapat melindungi kita dari penyebaran virus. Metode treatment dengan bahan herbal seperti propolis dan curcumin saat ini mungkin adalah salah satu yang paling menjanjikan untuk saat ini. Selain juga, tentu harus dibarengi dengan tindakan-tindakan preventif lainnya (seperti yang telah dijelaskan di atas).

Biasanya pembuatan vaksin dari uji coba lab akan membutuhkan waktu 6 bulan sampai 1 tahun. Waktu yang cukup lama bagi virus COVID-19 untuk dapat menyebar dengan lebih luas lagi.

Apakah itu juga bekerja dengan menggunakan madu biasa?

Yah, selama ini memang belum ada penelitian yang membuktikan bahwa madu biasa dapat mengobati virus corona yang sedang mewabah. Akan tetapi, belum adanya penelitian bukan berarti itu memastikan bahwa madu tidak memiliki kegunaan apa-apa sama sekali.

Untuk diketahui saja, madu telah diteliti dengan baik melalui berbagai riset ilmiah karena propertisnya yang teruji dalam membunuh bakteri (anti-mikroba). Yang mana, karena sifatnya tersebut madu telah secara luas digunakan sebagai disinfektan yang biasa ditambahkan pada hand sanitizer (sabun pencuci tangan) untuk kebersihan pribadi atau keperluan medis. Dan penggunaan hand sanitizer ini adalah salah satu cara efektif dalam mencegah penyebaran virus corona (sebagaimana yang disarankan oleh WHO).

Selain dari itu, senyawa antioksidan yang terdapat pada madu juga dapat menguatkan sistem kekebalan tubuh dalam membasmi berbagai penyakit. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa madu dapat menghambat bakteri untuk menempel pada jaringan hidup, sebagaimana sifat yang juga ditunjukkan pada percobaan menggunakan senyawa propolis. Itu adalah langkah awal yang penting dalam menangani infeksi yang akut.

Seperti yang kita tahu, virus tidak dapat menyebar secara mandiri tanpa menumpangi sel hidup dengan menyuntikkan struktur proteinnya untuk berkembang biak. Dalam hal ini, tak terkecuali virus juga dapat menjadikan bakteri sebagai sel inangnya. Jadi, secara tidak langsung madu juga memiliki sifat sebagai antivirus (antiviral drugs) dengan cara menghambat pertumbuhan bakteri yang menjadi media perantara bagi infeksi virus.

Baca juga: 7 Manfaat Madu Yang Terbukti Secara Ilmiah

Selain itu, penelitian Wales pada 2011 juga mengungkapkan bahwa madu juga dapat dikombinasikan dengan antibiotik tertentu untuk melawan bakteri yang sudah kebal terhadap obat karena berevolusi (drug-resistant MRSA). Bahkan itu efektif melawan 80 spesies patogen (kuman penyebab penyakit).

Perlu diingat disini bahwa madu (sejauh ini) memang belum bisa dijadikan sebagai obat khusus untuk penyakit akibat infeksi virus COVID-19 (butuh penelitian lebih lanjut). Akan tetapi, setidaknya madu bisa dijadikan sebagai bahan makanan untuk merangsang sistem imun bekerja dengan lebih baik untuk mencegah infeksi akut akibat virus.

Sebagai gambaran saja, madu telah digunakan secara medis  sebagai suplemen dan pendukung terapi demi mebantu proses penyembuhan kanker. Pasien yang secara rutin minum madu 3 – 4 kali sehari (satu sendok makan setiap sesi) terbukti menunujukkan perbaikan kondisi kesehatan yang signifikan. Setelah empat bulan menjalani kemoterapi dan radioterapi, sang pasien terlihat jauh lebih bugar dan tidak mengalami efek samping dari terapi yang dijalaninya. Madu secara efektif terbukti dapat mencegah kanker, meskipun tidak berfungsi secara langung sebagai obat.

Nah, dengan melihat manfaat dari madu yang bersifat sebagai anti-oksidan, anti-bakteri dan anti-virus sekaligus, sepertinya madu layak direkomendasikan sebagai bahan makanan wajib untuk memaksimalkan sistem kekebalan tubuh keluarga di rumah dari mencegah infeksi virus corona yang saat ini sedang mewabah.


Referensi:

  1. https://www.worldometers.info/coronavirus/
  2. https://www.who.int/news-room/q-a-detail/q-a-coronaviruses
  3. https://www.google.com/amp/s/www.psychologytoday.com/us/blog/comfort-cravings/202003/feeling-anxious-about-the-coronavirus-and-the-flu-eat%3famp
  4. https://katadata.co.id/amp/berita/2020/03/09/protokol-kesehatan-tanggap-virus-corona-lakukan-ini-jika-sakit
  5. https://m.detik.com/food/info-kuliner/d-4888064/korban-virus-corona-ini-klaim-sembuh-dengan-minum-whisky-plus-madu
  6. https://www.google.com/amp/s/tekno.tempo.co/amp/1315586/senyawa-propolis-indonesia-bisa-jadi-obat-alternatif-virus-corona
  7. https://www.google.com/amp/s/www.psychologytoday.com/us/blog/comfort-cravings/202003/feeling-anxious-about-the-coronavirus-and-the-flu-eat%3famp
  8. https://doktersehat.com/benarkah-madu-bisa-jadi-obat-kanker/
  9. https://www.genengnews.com/news/honey-bee-microbiome-bacteria-engineered-to-protect-against-pathogens-and-pests/

Tinggalkan Balasan