fbpx

info@dailyhoney.co.id

Madu dapat Mengatasi Alergi pada Anak-Anak, Benarkah?

Madu dapat Mengatasi Alergi pada Anak-Anak, Benarkah?

Madu dapat Mengatasi Alergi pada Anak-Anak, Benarkah? Madu cukup populer dipercaya oleh masyarakat dapat mengobati berbagai penyakit, seperti batuk, radang tenggorokan, diare, dan asma. Hal ini dikarenakan madu mengandung berbagai nutrisi penting, seperti vitamin, mineral, enzim, dan zat antioksidan. Senyawa yang terkandung dalam zat gizi tersebut itulah yang diyakini berperan dalam mengatasi infeksi penyakit, tak terkecuali alergi.

Penyebab alergi dan gejalanya

Alergi adalah perubahan reaksi tubuh terhadap benda-benda asing (seperti zat, makanan, serbuk, udara, asap, dsb) yang dalam kadar tertentu tidak membahayakan untuk sebagaian besar orang. Beberapa alergi seperti alergi udara dan serbuk sari biasanya terjadi secara musiman, yaitu ketika cuaca dingin atau pada musim tanaman berbunga dan memproduksi serbuk sari.

Reaksi alergi ini terjadi ketika tubuh menganggap serbuk sari atau polen sebagai zat asing, yang mirip seperti bakteri atau virus, sehingga imun tubuh merespon secara berlebihan. Hal ini menyebabkan timbulnya berbagai gejala, seperti bersin-bersin, pilek, tenggorokan kering, batuk, demam, sakit kepala atau juga disertai sesak napas. Beberapa alergi lain mungkin juga menunjukkan gejala yang berbeda.

Reaksi alergi ini cukup sering terjadi pada anak-anak. Walaupun terdapat beberapa cara pengobatan, mungkin ada juga sebagian orang tua yang memanfaatkan madu untuk mengobati alergi pada anak mereka, karena merupakan produk alami sehingga dinilai lebih aman. Sebagaimana madu telah terbukti dapat mengatasi batuk, radang tenggorokan dan infeksi saluran pernapasan, maka tentu ada alasan yang bagus untuk mempercayai madu sebagai obat ampuh untuk mengatasi alergi, bukan?

Akan tetapi, benarkah anggapan tersebut? Apakah sifat madu dalam mengatasi gejala alergi telah diakui secara medis atau penelitian ilmiah?

Efek madu terhadap gejala alergi

Madu diketahui memiliki berbagai propertis penting yang berfungsi sebagai antibakteri, antivirus, anti-peradangan dan anti-jamur. Dan yang terpenting adalah madu mengandung senyawa antioksidan yang dapat menangkal radikal bebas penyebab berbagai penyakit, seperti kolestrol, tekanan arah tinggi, stroke, dan penyakit jantung. Selain itu, madu juga digunakan untuk menyembuhkan luka secara efektif, yang mana pada beberapa alergi tak jarang menyebabkan gejala ruam pada kulit.

Dan juga, peranan madu terhadap penanganan alergi juga telah secara khusus diteliti melalui beberapa studi ilmiah. Sejauh ini, setidaknya ada 3 penelitian yang secara khusus mempelajari tentang efek madu terhadap gejala alergi ini.

Pertama, sebuah studi tahun yang dilakukan pada tahun 2002 dengan membandingkan dua jenis madu berbeda — madu lokal dan madu yang telah dipasteurisasi — terhadap plasebo (bukan madu) ┬ápada orang-orang dengan alergi serbuk sari. Sayangnya, peneliti tidak menemukan adanya perbedaan yang jelas dari gejala alergi pada ketiga grup partisipan tersebut (kelompok yang mengkonsumsi madu lokal, olahan, dan plasebo).

Namun, studi lain dari sumber berbeda justru menemukan bahwa mengkonsumsi mau dengan dosis tinggi dapat meringankan gejala alergi selama periode 8 minggu.

Ketiga, penelitian yang dilakukan oleh Universitas Islam Malaysia pada 2013 justru menunjukkan adanya dampak positif dari mengkonsumsi madu. Mereka yang mengkonsumsi madu (1 gram madu per kilogram berat badan per harinya) menunjukkan adanya perbaikan gejala alergi ketika dibaningkan dengan mereka yang mengkonsumsi sirup jagung beraroma madu dengan takaran serupa.

Meskipun demikian, studi tersebut masihlah merupakan tahap awal karena belum menunjukkan hasil yang saling bersesuaian. Jadi, untuk saat ini dibutuhkan lebih banyak studi dan penggunaan sampel yang lebih besar untuk memepelajari lebih lanjut tentang kemungkinan manfaat madu terhadap penanganan alergi.

Selain itu, dikutip dari hellosehat.com bahwa perlu diketahui tidak semua madu itu aman dikonsumsi. Ada jenis mau tertentu yang juga malah dapat menyebabkan keracunan, misalnya madu yang berasal dari nektar Rhododendron atau bunga azalea. Madu jenis ini berisiko menyebabkan tekanan darah rendah, nyeri dada, dan masalah pada jantung karena madu jenis tersebut mengandung racun.

Bahkan untuk mereka yang memiliki alergi terhadap serbuk sari, sangat dianjurkan untuk tidak (atau lebih baik hindari) mengonsumsi madu karena cairan manis ini terbuat dari serbuk sari yang bisa menyebabkan reaksi alergi.

Kesimpulan

Meskipun madu belum bisa dikonfirmasi secara pasti dapat menyembuhkan alergi, akan tetapi setidaknya madu telah terbukti memiliki manfaat lain yang terkait dengan itu. Sebagai contoh, madu secara efektif dapat menyembuhkan luka lebih cepat dan mengurangi gejala batuk, radang tenggorokan dan infeksi pernapasan yang telah terbukti melalui berbagai studi. Beberapa gejala tersebut tentunya berkaitan dengan reaksi alergi secara tidak langsung.

Jadi, walaupun madu tidak bisa menyembuhkan alergi secara langsung, setidaknya penggunaan madu bisa mengurangi beberapa gejala yang menyertainya. Tentu dengan syarat hanya sebagai pelengkap pengobatan utama, kecuali mungkin bagi mereka yang memiliki riwayat alergi terhadap serbuk sari (yang biasanya masih terbawa alam madu mentah).

Bahkan, bagi kamu yang tidak memiliki alergi sama sekali, masih ada manfaat lain dari madu yang bisa kamu peroleh. Menurut sebuah review 2016 pada Journal of the Science of Food and Agriculture, polen lebah diketahui memiliki beberapa bermanfaat sebagai suplemen diet, khususnya bagi kamu yang mungkin sedang menjalani program diet sehat.


Referensi:

  1. https://www.verywellhealth.com/honey-for-allergies-82773
  2. https://www.healthline.com/health/allergies/honey-remedy#purpose
  3. https://hellosehat.com/pusat-kesehatan/alergi-autoimun/alergi/madu-obat-alergi-apakah-ampuh/amp/
  4. Ingestion of honey improves the symptoms of allergic rhinitis: evidence from a randomized placebo-controlled trial in the East Coast of Peninsular Malaysia, 2011, diakses pada laman https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6074882/

Tinggalkan Balasan