fbpx

info@dailyhoney.co.id

Menjawab Berbagai Mitos tentang Madu yang Beredar di Masyarakat

Menjawab Berbagai Mitos tentang Madu yang Beredar di Masyarakat

Madu merupakan salah satu produk makanan hewani yang populer di masyarakat. Sirup manis yang dihasilkan oleh lebah yang satu ini telah digunakan oleh manusia sejak dulu karena dipercaya memiliki sejumlah manfaat. Belakangan ini, berkat kemajuan IPTEK, penggunaan madu telah diteliti secara medis dan terbukti mengandung sejumlah senyawa aktif di dalamnya yang bermanfaat sebagai obat maupun kosmetik. Madu telah menjadi komoditas makanan yang bernilai gizi tinggi dan serba guna.

Akan tetapi, karena kepopulerannya itu, ada beberapa miskonsepsi tentang madu yang beredar di masyarakat. Kesalahpahaman ini biasanya terjadi karena mitos tentang madu yang terlanjur dipercaya oleh masyarakat, misalnya terkait keaslian madu atau manfaat madu yang tidak terbukti secara ilmiah.

Lalu, apa sajakah mitos-mitos tentang madu tersebut yang perlu diluruskan? Berikut ini adalah mitos yang umum tentang madu dan penjelasannya berdasarkan fakta ilmiah.

Mitos #1 : Madu asli tidak menarik semut

Faktanya adalah madu asli dapat menarik semut. Percobaan yang pernah dilakukan, semut mengerubungi bahan pemanis, baik itu gula maupun madu asli. Justru madu yang tidak tidak disukai semut bisa jadi itu adalah madu palsu karena telah ditambahkan zat lain atau pemanis buatan yang tidak sehat.

Akan tetapi, seberapa cepat madu dapat menarik semut bervariasim tergantung dari kandungan air, kelembapan lingkungan, dan lokasi dari madu tersebut.

Madu yang agak encer memiliki lebih banyak molekul udara dan aroma yang dapat keluar melalui penguapan, sehingga menarik semut. Sementara itu, ketika lingkungan lembap, lebih mudah bagi serangga untuk mencium aromanya. Madu yang disimpan di tempat yang lembap akan menjadi target yang mudah nagi semut untuk mengerubunginya.

Mitos #2 : Madu tidak mengkristal/membeku

Kebenarannya adalah sama seperti semua gula, madu juga bisa mengkristal.

Salah satu faktor yang mempengaruhi kristalisasi pada madu adalah rasio perbandingan antara fruktosa dan glukosanya. Semakin tinggi kadar fruktosa dalam madu, semakin kecil kemungkinan madu untuk mengeras/membeku. Sedangkan, madu dengan kadar glukosa tinggi akan mengalami sebaliknya.

Selain itu, hal penting lainnya yang menentukan adalah kadar air dalam madu. Jika kadar airnya 20% atau lebih, maka madu tidak akan mudah mengkristal. Madu yang disimpan di tempat dengan suhu rendah (sekitar suhu 4-8 derajat Celcius) kemungkinan besar akan mengalami kristalisasi.

Mitos #3 : Rasa manis pada madu adalah palsu karena telah ditambahkan gula

Faktanya adalah rasa madu tergantung dari jenis tanaman sumber madu berasal.

Rasa manis dari madu tidak berasal dari gula. Madu sendiri sudah mengandung fruktosa dan glukosa, dan bisa memiliki rasa 1,5 kali lebih manis dari gula.  Jenis madu juga bervariasi sebagaimana jumlah bunga yang ada. Kualitas dari madu juga berubah karena karakteristik tanaman sumber nektarnya berasal. Madu juga dapat berubah warna, kekentalan, dan cita rasa.

Mitos #4 : Kamu dapat menguji keaslian madu sendiri

Anggapan ini sebenarnya salah. Satu-satunya pengujian yang dapat dilakukan sendiri di rumah hanyalah kandungan air dalam madu.

Sejumlah tes lainnya seperti uji semut, uji bakar, uji larut dan lain sebagainya tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Pengujian keaslian madu yang valid hanya bisa dilakukan melalui uji laboratorium.

Baca juga: Bagaimana Cara Membedakan Madu Asli dan Madu Palsu dengan Benar?

Mitos #5 : Madu asli (dalam kondisi apapun) tidak bisa kadaluarsa

Sebenarnya madu asli memang tidak akan kadaluarsa karena madu sendiri memiliki sifat alami sebagai antimikroba di dalamnya. Sebuah situs sarang lebah kuno dari Mesir kuno yang diperkirakan telah berusia 3.000 tahun, ditemukan bekas madu yang ternyata masih baik-baik saja.

Akan tetapi, pada kondisi tertentu madu bisa mengalami kadaluarsa, seperti cara penyimpanan yang salah atau terpapar oleh lingkungan. Selain itu, enzim lebah yang terkandung dalam madu akan berkurang seiring waktu, sehingga kesegaran madu juga akan berkurang sejak madu itu pertama kali dipanen.

Selain itu, suhu lingkungan juga turut mempengaruhi keawetan madu. Madu yang berasal dari negara dengan iklim yang lebih dingin diketahui bertahan 1-2 tahun lebih lama daripada madu dari negara tropis. Madu yang diproses juga dapat memperpanjang masa awet madu. Adapun tanggal kadaluarsa yang tertulis pada kemasan produk hanyalah menunjukkan waktu terbaik mengkonsumsi madu tersebut (selagi masih segar) dan tidak ada hubungannya dengan masa awet madu tersebut (selagi masih disimpan dengan baik).

Baca juga: Meskipun Bersifat Antimikroba, Mengapa Madu Bisa Mengalami Fermentasi?

Mitos #6 : Madu sama saja dengan gula atau pemanis lainnya

Pada kenyataannya, madu mengandung sejumlah nutrisi yang menyehatkan, seperti vitamin dan mineral yang tidak terdapat pada gula. Madu memiliki gula murni — kombinasi antara fruktosa dan glukosa — yang membantu mengontrol gula darah dalam tubuh.

Akan tetapi, karena kebanyakan madu lebih manis daripada gula, kamu perlu membatasi konsumsi madu dengan dosis lebih sedikit untuk mendapatkan kalori yang sama dan masih mendapatkan manfaat yang lebih secara alami.

Baca juga: 7 Alasan Kenapa Madu Lebih Sehat Daripada Gula

Mitos #7 : Madu yang berwarna gelap berarti kualitasnya buruk, dan tidak sebagus madu yang warnanya cerah

Madu memiliki beragam warna dan aroma yang berubah berdasarkan rasanya. Hal ini tergantung pada sumber nektar bunga, wilayah geografis, kondisi tanah dan iklim tempat madu berasal. Perbedaan dari berbagai karakteristik tersebut dapat memberikan perbedaan yang berarti pada warna, rasa dan aroma pada  madu. Selain itu, faktor usia dan tempat penyimpanan madu pada suhu yang lebih hangat cenderung membuat madu jadi lebih gelap dan mengubah aromanya.

Dan juga, perlu dicatat bahwa madu yang berwarna gelap cenderung memiliki kadar antioksidan yang lebih tinggi. Senyawa antioksidan ini sangat berguna dalam melawan radikal bebas penyebab berbagai penyakit, seprti koleterol, tekanan darah tinggi, jantung koroner, dan beberapa jenis kanker.

Mitos #8 : Mengambil madu dengan sendok logam itu berbahaya

Madu bersifat asam secara alami. Itu adalah anggapan lama bahwa menyendok madu dengan sendok logam bisa berbahaya, kecuali bahan logam yang digunakan itu memang sudah berkarat. Sendok madu yang umum digunakan biasanya terbuat dari kayu, karena pengunaan bahan logam dalam waktu lama bisa jadi berisiko karena logam bisa mengalami korosi.

Namun demikian, kalau kamu cuma sekedar ingin mencicipi madu langsung dengan menggunakan sendok logam, maka itu tidak masalah.

Mitos #9 : Semua lebah memproduksi madu

Faktanya, ada sekitara 20.000 spesies lebah di dunia yang telah diketahui sejauh ini. Akan tetapi, dari sekian banyak spesies yang ada, hanya 5% diantaranya yang menghasilkan madu (itupun juga tidak semua bisa dibudidayakan).

Diantara spesies lebah yang bisa dibudidayakan, antara lain yaitu lebah hutan, lebah Apis dan lebah tanpa sengat. Lebah yang umum dibudidayakan adalah lebah yang memiliki sengat yang tidak ganas dan menghasilkan madu dalam jumlah banyak pada masa panen, misalnya lebah Eropa (Apis mellifera).

Baca juga: Yuk! Ketahui Apa Saja Jenis Lebah Yang Umum Dibudidayakan di Dunia

Mitos #10 : Madu pasteurisasi sudah tidak lagi madu asli

Kenyataannya, madu hanya bisa dikatakan palsu hanya jika ditambahkan zat lainnya, seperti sirup fruktosa dan/atau dipalsukan dengan cara membuat larutan menyerupai madu. Madu yang diperoses dengan cara pasteurisasi (pemanasan pada suhu tertentu) masih bisa diaktakan sebagai madu asli. Pasteurisasi pada madu bertujuan untuk membunuh sel ragi pada madu yang berpotensi menyebabkan terjadinya fermentasi.

Walaupun banyak yang mengatakan bahwa pasteurisasi pada madu dapat merusak kandungan enzim yang terdapat pada madu, namun sebenarnya itu tergantung dari teknik pasteurisasi yang dilakukan. Ada sebuah sumber yang mengatakan bahwa pemanasan pada suhu di bawah 65 derajat Celcius tidak akan merusak nutrisi yang terdapat pada madu.

Baca juga: Mengapa Madu (Komersial) Dipasteurisasi?

Mitos #11 : Madu yang kental lebih baik daripada madu yang encer

Kekentalan madu sebenarnya bukanlah cara untuk menentukan apakah madu itu mentah atau telah diproses. “Mentah” tidak selalu sama dengan “kental” untuk madu. Kekentalan pada madu tergantung dari berbagai faktor seperti sumber nektar, cuaca, kelembapan, curah hujan, lanskap geografis, dan jenis lebah. Beberapa jenis madu dari flora yang berasal dari beberapa negara, seperti China dan Taiwan secala alami bahkan lebih kental daripada negara-negara lain.

Kekentalan madu juga berkaitan dengan waktu panen madu. Jika madu dipanen sebelum waktunya, maka kandungan airnya akan cukup tinggi. Jadi, madu yang encer tidak selalu merupakan tanda pemalsuan. Selain juga, kekentalan bukanlah faktor penentu dari kualitas madu sebenarnya.

Mitos #12: Busa putih yang terdapat pada madu berarti madu palsu

Mitos ini sebenarnya berasal dari anggapan bahwa madu tidak pernah basi dalam kondisi apapun. Busa putih pada permukaan madu sederhananya adalah gelembung udara yang terbentuk karena udara yang terjebak di dalam madu yang berusaha meloloskan diri ke permukaan dan mendesak tutup botol.


Referensi:

  1. https://www.agriculture.com.ph/2020/06/12/debunking-honey-myths/
  2. https://nutriwish.com/blog/honey-facts-vs-myth-debunked

Tinggalkan Balasan