fbpx

info@dailyhoney.co.id

Studi Menunjukkan Bahwa Madu Ternyata dapat Membantu Perkembangan Otak Anak!

Studi Menunjukkan Bahwa Madu Ternyata dapat Membantu Perkembangan Otak Anak!

Setiap orang tua pasti menginginkan agar anaknya tumbuh dengan baik. Apalagi di usia balita dan anak-anak adalah periode paling optimal bagi tumbuh kembang anak yang akan mempengaruhi masa depannya. Oleh karena itu, sudah tentu orang tua akan bersedia memberikan asupan gizi terbaik untuk mendukung pertumbuhan mereka. Sehingga, anak-anak yang diberi nutrisi yang cukup diharapkan nantinya akan tumbuh menjadi anak yang sehat secara fisik dan juga cerdas.

.  .  .

Sejauh ini, susu dan madu adalah dua jenis produk makanan hewani yang dipercaya dapat melengkapi kebutuhan nutrisi harian anak. Selain digemari karena rasanya yang manis, susu dan madu ternyata juga bermanfaat dalam membantu perkembangan otak anak. Sebuah studi terhadap bayi yang diberi ASI secara berkelanjutan selama 2 tahun menunjukkan performa kecerdasan yang lebih baik pada masa kanak-kanaknya ketimbang mereka yang tidak diberi ASI secara intensif.

Lalu, bagaimana dengan madu?

Dalam setiap 100 gramnya, rata-rata madu mengandung 304 kilo kalori dengan 82,40 gram karbohidrat (dalam bentuk glukosa, fruktosa dan sukrosa), 17,10 gram air dan 0,5 gram sisanya adalah protein, asam organik, senyawa antioksidan, enzim dan mineral. Jadi, dengan menyajikan segelas susu hangat ditambah dengan madu segar, seharusnya sudah bisa menjadi pelengkap menu sarapan anak Bunda di rumah.

Nah, melihat kandungan nutrisinya yang kaya dengan karbohidrat tersebut, mungkin sekilas agak bertentangan dengan pandangan umum bahwa terlalu banyak gula akan membuat otak menjadi tumpul. Mungkin iya, jika Anda mengkonsumsi madu dalam jumlah berlebih atau madu palsu yang telah dicampur pemanis tambahan sehingga manfaatnya jadi hilang.

Akan tetapi, madu juga memiliki propertis lainnya yang bermanfaat sebagai bahan bakar bagi otak untuk mencegah stress metabolisme dan membantu kualitas tidur lebih baik, yang mana itu adalah faktor krusial untuk perkembangan kognitif dan memori, terutama bagi anak-anak.

Salah satu agen potensial pada madu yang membantu dalam peningkatan kognitif adalah senyawa antioksidan yang disebut phinocembrin. Phinocembrin merupakan kelompok senyawa antioksidan flavonoid yang dapat meningkatkan fungsi otak. Berbagai riset telah menemukan bahwa phinocembrin memiliki dampak yang secara langsung berhubungan dengan neuroprotektif (perlindungan sel-sel syaraf dari penurunan fungsi atau penuaan), walaupun sebenarnya juga bisa ditemukan pada bahan makanan lainnya, seperti sayuran dan buah-buahan.

Hal ini berarti bahwa senyawa antioksidan pada madu dapat melindungi otak dan sel syaraf dari kerusakan dengan cara menangkal radikal bebas penyebab penyakit dan degenerasi sel. Hasil studi tersebut juga cukup menggembirakan karena, karena ternyata efek positif madu juga telah diteliti dan bekerja pada pasien dengan kondisi pelemahan sel syaraf, seperti penyakit stroke, Alzheimer dan Parkinson. Wah, ternyata manfaat madu cukup luas, ya!?

Sebelumnya, beberapa pengobatan tradisional kuno telah lama meyakini bahwa madu memiliki potensi untuk meningkatkan kemampuan memori otak. Namun demikian, tentu kepercayaan tersebut tidak membuktikan apa-apa pada kita selama itu belum diuji secara ilmiah.

Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa sifat polifenol (senyawa antioksidan) dari madu dapat melawan stres oksidatif, mengembalikan sistem pertahanan antioksidan seluler kita dan karenanya sangat membantu dalam meningkatkan defisit memori (Evidence-Based Complementary and Alternative Medicine, Vol. 2014).

Selain itu, dalam sebuah penelitian yang dipublikasikan pada Journal of the Argentine Chemical Society, Vol. 96(2) tahun 2008 tentang komposisi kimia madu menemukan bahwa madu membantu dalam membangun dan mengembangkan sistem saraf pusat pada bayi yang barul lahir dan balita usia pra-sekolah, yang mana dapat mengurangi kecemasan, meningkatkan daya ingat dan pembelajaran, serta meningkatkan kinerja intelektual mereka di kemudian hari.

Rupanya manfaat madu tersebut tidak hanya bekerja untuk anak-anak saja. Dalam publikasi ilmiah yang bertajuk The Journal of The North American Menopause Society, Vol. 18 tahun 2011 memperlihatkan bahwa wanita pada usia menopause menjadi rentan terhadap penurunan estrogen dalam tubuh mereka, yang berdampak pada penurunan kognitif dalam pembelajaran dan memori verbal. Berkaitan dengan itu, Universiti Sains Malaysia telah melakukan percobaan pada wanita pasca-menopause yang mengkosumsi 20 gram madu selama 16 minggu dan hasilnya menunjukkan adanya peningkatan konsentrasi dan daya ingat secara langsung, walaupun terjadi secara berangsur.

.  .  .

Jadi, madu dapat memiliki dampak yang menguntungkan terhadap kesehatan otak kita, bahkan selagi kita menua. Dampaknya mungkin akan lebih signifikan pada anak-anak karena pertumbuhan sel-sel otaknya yang luar biasa pesat selama proses belajar pada masa tumbuh kembangnya.

Akan tetapi, apakah hal itu (mengkonsumsi madu) membuat kita menjadi lebih pintar?

Jawabannya mungkin tidak semudah itu. Ada banyak faktor yang menentukan kecerdasan seorang individu, dan asupan nutrisi selama pertumbuhan awal masa kehidupan hanyalah salah satunya.

Kemampuan kognitif adalah ukuran seberapa baiknya kita dalam mempelajari hal baru melalui proses berpikir, pengalaman, dan mengindera hal-hal yang pada lingkungan kita. Telah ada penelitian yang menemukan bahwa senyawa phinocembrin pada madu dapat memicu regenerasi sel-sel dalam otak dengan melindungi struktur sel pada otak.

Selain itu, antioksidan pada madu juga diketahui membantu meningkatkan daya ingat. Reaksi tersebut terjadi dengan menetralkan efek stres oksidatif radikal bebas. Penetralan reakasi oksidatif membantu meningkatkan meori yang lemah. Dan tentunya, memiliki daya ingat yang lebih baik membantu kita dalam belajar dan menyimpan informasi secara lebih efektif.

Meskipun demikian, para ilmuwan masih berusaha menemukan korelasi yang meyakinkan antara manfaat madu dengan fungsi otak yang lain. Jadi, ya mungkin saja secara tidak langsung mengkonsumsi madu dapat membuat kita lebih pintar. Dan agen utama yang memperkuat potensinya adalah kandungan antioksidan dan zat anti-peradangan, yang mana hal itu terdapat banyak pada madu murni berkualitas tinggi, tentunya.

Terakhir, mungkin ini bisa disarankan bagi Bunda yang memiliki anak balita maupun usia sekolah di rumah. Dikutip dari halodoc, mengkonsumsi madu minimal 20 gram per hari akan menstimulasi produksi hormon-hormon yang bertanggung jawab terhadap daya kognisi dan memori otak pada anak. Tentunya, daya ingat yang baik sangat dibutuhkan dalam proses pembelajaran si anak di masa tumbuh kembangnya.


Referensi:

  1. https://nectahive.com/eating-honey-can-make-you-smarter/
  2. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5635760/
  3. https://www.benefits-of-honey.com/honey-boosts-brain-function.html
  4. https://www.researchgate.net/publication/245820416_The_use_of_honey_as_a_natural_preventive_therapy_of_cognitive_decline_and_dementia_in_the_Middle_East

Tinggalkan Balasan