fbpx

info@dailyhoney.co.id

Tentang Budidaya Lebah Madu Lokal dan Permasalahannya di Indonesia

Tentang Budidaya Lebah Madu Lokal dan Permasalahannya di Indonesia

Budidaya lebah madu merupakan salah satu bidang usaha yang dinilai potensial bagi perekonomian Indonesia. Hal itu mengingat Indonesia adalah habitat bagi beberapa spesies lebah madu asli dan juga kondisi floranya yang memungkinkan. Sehingga, tak heran jika mata pencaharian sebagai peternak lebah sangat cocok bagi masyarakat kelas menengah di perdesaan yang masih bergantung pada sektor pertanian, peternakan, dan/atau perkebunan.

Selain itu, budidaya lebah madu juga dapat membantu penyerbukan tanaman berbuah disekitarnya, sehingga akan meningkatkan hasil panen dan produksi buah yang berkualitas (fungsi polinasi). Lebah adalah penyerbuk alami terbaik dari kebanyakan tanaman yang mungkin buahnya sering kita konsumsi. Sehingga, secara tidak langsung lebah juga berperan dalam menjaga kelangsungan hidup dan keragaman jenis flora di alam.

Budidaya Lebah Madu di Indonesia

Budidaya lebah madu merupakan salah satu kegiatan usaha yang tidak berbasis lahan, sehingga tidak akan menjadi ancaman bagi usaha pertanian pada umumnya. Perlebahan bahkan berperan dalam optimalisasi sumber daya alam melalui pemanfaatan nektar dan serbuk sari, yakni dua produk tumbuhan yang sebagian besar akan terbuang sia-sia apabila tidak dimanfaatkan untuk pakan lebah madu. Dengan begitu, perlebahan merupakan jenis kegiatan yang secara efektif dapat memberikan nilai tambah terhadap budidaya tanaman.

Namun, sayangnya usaha budidaya lebah madu masih belum begitu populer di Indonesia. Padahal, keadaan alam dan kondisi iklim Indonesia sangat mendukung untuk usaha budidaya lebah, seperti tersedianya sumber pakan (bee forage) sepanjang tahun dan aneka jenis lebah madu.

Makanan pokok lebah yaitu serbuk sari (pollen) dan nektar, yaitu larutan gula yang berasal dari bunga tanaman. Bagi lebah, serbuk sari adalah sumber protein, sementara nektar adalah sumber karbohidrat. Kedua jenis makanan ini diambil oleh lebah dari tanaman, khususnya di bagian bunga. Namun, pada tanaman tertentu, misalnya karet (Ficus elastica) dan akasia (Acacia spp), nektar tidak dikeluarkan dari kelenjar yang ada di bagian dasar bunga, melainkan dari tunas daun muda dan pangkal daun.

Selain itu, lebah madu juga dapat memperoleh karbohidrat dari honeydew, yaitu cairan gula yang disekresikan tanaman melalui perantaraan sejenis kutu (plant sucking insects). Jadi, madu yang dihasilkan oleh lebah tidak hanya berasal dari nektar flora saja , ya ternyata, tapi bisa juga dari bagian lain dari tanaman tertentu (ekstra flora) dan sekresi serangga.

Menurut Standar Nasional Indonesia 8664-2018 tentang madu, hasil budidaya lebah madu lokal dapat dikategorikan menjadi 3 jenis, yaitu:

  1. Madu hutan, yaitu jenis madu yang dihasilkan oleh lebah liar Apis dorsata.
  2. Madu budidaya, yaitu jenis madu yang dihasilkan oleh lebah budidaya: Apis mellifera dan Apis cerana.
  3. Madu lebah tanpa sengat, yaitu jenis madu yang dihasilkan oleh lebah Trigona spp.

Sejauh ini, ada sebanyak 9 spesies lebah di dunia yang diketahui dapat menghasilkan madu. Dan kabar baiknya, 5 dari 9 spesies lebah tersebut bisa ditemukan di Indonesia. Akan tetapi, jenis lebah madu yang umum dibudidayakan oleh peternak lebah adalah Apis cerana, Apis mellifera, dan Trigona spp dikarenakan spesies lebah ini dikenal produktif dan tidak ganas. Berbeda halnya dengan Apis dorsata yang hidup secara liar di hutan dan sukar dijinakkan.

Baca juga:

Jenis Budidaya Lebah Madu Lokal

Budidaya lebah madu di Indonesia terdiri dari budidaya lebah lokal (Apis cerana) dan lebah impor (Apis mellifera). Bentuk dan teknik menejemen koloni tergantung jenis lebah madu yang dikelolanya, tapi secara umum dapat dikategorikan menjadi budidaya menetap dan budidaya berpindah.

Budidaya Menetap

Bees apiary || BeeKeeping ||
Gambar. Metode budidaya lebah menetap atau stationary beekeping (via keepingbee.org)

Budidaya menetap (stationary beekeping) adalah peternakan lebah madu yang hanya berada di satu lokasi secara terus menerus. Praktek budidaya seperti ini biasa dilakukan pada lebah madu lokal jenis Apis cerana yang kebanyakan masih bersifat tradisional.

(+) Positif  :

  • Pengelolaannya lebih sederhana dan tidak memerlukan biaya dan mobilitas tinggi, karena tidak harus memindah-mindahkan sarang koloni secara berkala.
  • Proses pemantauan koloni lebih efisien karena hanya berlokasi di satu tempat sehingga tidak menguras energi dalam pemilihan tempat.
  • Dapat dijadikan sebagai pekerjaan sambilan karena proses pengembangan dan manajemennya yang tidak begitu rumit karena mengikuti sumber pakan.

(+) Negatif :

  • Hasil yang diperoleh dari praktek budidaya menetap sangat tergantung dari jenis dan jumlah tanaman pakan yang tersedia serta masa pembungaannya. Memang untung, apabila masa pembungaan tanaman cukup panjang, sehingga hasilnya dapat dipetik sepanjang masa pembungaan tanaman tersebut. Namun, apabila tanaman pakan yang ada mempunyai masa pembungaan yang pendek, maka hasilnya akan sedikit.
  • Ada resiko hasil madu yang tidak terlalu banyak dan koloni hijrah (kabur). Lebah madu Apis cerana tergolong jenis lebah madu yang sangat mudah hijrah apabila kekurangan sumber pakan dari lingkungan di sekitarnya. Potensi koloni hijrah sangat mudah terjadi pada model budidaya menetap karena umumnya tidak mampu mencukupi keseluruhan kebutuhan pakan lebah, baik nektar maupun serbuk sari, sepanjang tahun.

Oleh sebab itu, sistem budidaya menetap sebaiknya hanya dilakukan pada lokasi dengan tanaman sumber pakan yang masa pembungaan dan atau sekresi nektarnya melimpah dalam waktu panjang dan juga tersedia sumber serbuk sari.

Budidaya Berpindah

Home sick: Effects of migratory beekeeping on honey bee disease ...
Gambar. Metode budidaya lebah berpindah atau migratory beekeping (via experiment.com)

Budidaya berpindah (migratory beekeeping) adalah bentuk pengelolaan budidaya lebah madu yang berpindah-pindah mengikuti musim pembungaan tanaman. Untuk sekarang ini, budidaya berpindah hanya dilakukan pada budidaya Apis mellifera.

(+) Positif :

  • Tingkat produktivitas Apis mellifera yang lebih tinggi dibanding Apis cerana dan membutuhkan sumber pakan yang lebih banyak secara terus menerus.

(-) Negatif :

  • Bentuk budidaya seperti ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit, sehingga membutuhkan perhitungan yang cermat supaya tidak merugikan. Dan karena itu pula, budidaya berpindah tidak mungkin hanya dikelola sebagai kegiatan sambilan sebagaimana umumnya budidaya Apis cerana yang menetap.

Budidaya berpindah membutuhkan informasi dan pengetahuan musim pembungaan tumbuhan serta peta dan data luasan tanaman pakan. Pengetahuan, peta, dan data tersebut digunakan untuk menentukan kemana koloni lebah akan digembalakan. Jenis budidaya ini akan terus berulang setiap tahun, baik lokasi maupun tata urutan waktu penggembalaannya, sehingga membentuk semacam siklus tahunan.

Permasalahan Budidaya Lebah Madu Lokal

Masalah utama yang dihadapi peternak lebah lokal (Apis cerana) sampai saat ini yaitu produktivitas rendah dan mudah hijrah (kabur). Dua masalah tersebut tidak jarang menyebabkan peternak menjadi putus asa dan membiarkan usahanya berjalan alami apa adanya, atau meninggalkannya.

Rendahnya produktivitas dan koloni yang hijrah (kabur) dari sarang

Ada dua faktor yang menyebabkan rendahnya produktivitas dan hijrahnya koloni Apis cerana.

Faktor pertama dan paling utama adalah kekurangan sumber pakan. Faktor ini terlihat menonjol akhir-akhir ini, karena tanaman sumber pakan lebah semakin berkurang akibat penyempitan lahan pertanian, adanya kompetisi dengan lebah Apis mellifera, dan (di beberapa daerah tertentu) karena menurunnya kuantitas sekresi nektar tanaman pakan yang ada.

Faktor kedua yang menyebabkan rendahnya produktivitas koloni Apis cerana dan kesukaannya hijrah adalah masalah genetik (faktor keturunan). Karakter lebah Apis cerana lainnya yang dinilai kurang baik dan sangat mengganggu adalah tingkat agresivitasnya yang relatif tinggi. Jalan untuk mengatasi masalah yang berkaitan dengan faktor genetik hanya dapat dilakukan melalui pemuliaan bibit.

Pada Konferensi Perlebahan Asia ke 4 di Katmandu, Nepal, tahun 1998, disepakati tentang pentingnya upaya peningkatan produktivitas Apis cerana melalui program seleksi koloni. Hal ini tidak lepas dari munculnya gejala penurunan populasi lebah cerana di beberapa negara Asia akibat terdesak oleh Apis mellifera yang semakin luas penyebarannya. Program seleksi diharapkan dapat menjadi salah satu strategi penyelamatan lebah Asia ini.

Ketidakberimbangan antara perkembangan popolasi koloni dengan ketersediaan tanaman sumber pakan (over population)

Dalam budidaya lebah Eropa (Apis mellifera), masalah yang paling menonjol adalah gejala ketidakberimbangan antara perkembangan popolasi koloni dengan ketersediaan tanaman sumber pakan (over population). Gejala ini telah dirasakan peternak lebah Apis mellifera sejak beberapa tahun terakhir, ditandai dengan ketatnya persaingan dalam “memperebutkan” area penggembalaan. Akibatnya terjadi penurunan jumlah rata-rata produksi per unit koloni.

Makin menurunnya jumlah dan luas areal tanaman sumber pakan lebah madu

Masalah populasi lebah yang tidak seimbangan tidak lepas dari makin menurunnya jumlah dan luas areal tanaman sumber pakan di Jawa. Pohon kapuk randu yang menjadi andalan utama penghasil madu makin menurun jumlah dan kualitas tegakannya. Data statistik perkebunan dari Kementerian Pertanian (2011) mengkonfirmasikan penurunan areal kebun randu tersebut. Di Propinsi Jawa Tengah, angka penurunan luas areal kebun randu antara tahun 2000 – 2009 mencapai 44%, yaitu dari 79.779 ha pada tahun 2000 menjadi tinggal hanya 44.666 ha pada tahun 2009.

Penebangan tidak hanya pada tanaman randu yang sudah tua tetapi juga yang masih produktif. Penyusutan luas tegakan pohon randu tidak hanya terjadi di Jawa Tengah, wilayah Jawa Timur juga mengalami hal yang sama. Hal ini menambah kesulitan bagi para peternak lebah mengingat kebun-kebun randu di Jawa Timur termasuk wilayah penggembalaan koloni Apis mellifera dari berbagai daerah.

Data statistik pertanian untuk komoditi perkebunan mencatat terjadinya penurunan luas areal kebun randu di Jawa Timur sebesar 10% antara tahun 2000 – 2009, yaitu dari total luasan sebesar 89.028 ha pada tahun 2000 menjadi tinggal 79.955 ha pada tahun 2009 (Kementerian Pertanian, 2011). Dari luasan yang masih ada, hanya 70% yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan lebah, karena selebihnya berupa tegakan rusak (14%) dan tegakan yang belum berproduksi (16%).

Masalah sosial: penolakan kedatangan koloni lebah oleh sebagian petani/pekebun

Masalah lain yang tidak kalah menghawatirkan bagi para peternak lebah Apis mellifera adalah masih adanya penolakan kedatangan koloni lebah oleh sebagian petani/pekebun. Mereka mengganggap lebah menyebabkan rontok bunga sehingga potensi pembuahan berkurang. Beberapa peternak lebah menginformasikan bahwa penolakan para petani/pekebun tidak jarang bersifat sangat ekstrim dengan mengancam membakar stup- stup lebah atau menjungkirbalikannya. Penolakan dan pengusiran kedatangan koloni lebah antara lain terjadi di Purwodadi (Jawa Tengah) oleh petani jagung dan Subang (Jawa Barat) oleh pemilik kebun rambutan.

Pada tanggal 27 Pebruari 2012 terjadi peristiwa pembakaran koloni lebah yang menyebabkan hancurnya ratusan stup Apis mellifera yang sedang digembalakan di kawasan hutan sonokeling di Jawa Timur. Pembakaran diduga dipicu oleh gagal panen padi di persawahan sekitar hutan yang dianggap sebagai akibat dari adanya penggembalaan lebah madu. Ini merupakan hal yang sangat ironis mengingat di negara lain lebah madu justru sangat dibutuhkan para petani/pekebun untuk meningkatkan produksi pertanian/perkebunan.

Nilai produk pertanian/perkebunan yang memanfaatkan jasa penyerbukan oleh lebah madu di berbagai negara mencapai, US$ 14,6 milyar di Amerika Serikat (Morse & Calderon, 2000),  $A 0,97 milyar di Australia (Gordon & Davis, 2003), $Can 0,4 milyar di Kanada (Scott-Dupree et al., 1995), € 4,3 milyar di Eropa (Bornek & Merle, 1989).

Burgett (2011) menginformasikan bahwa penghasilan utama mayoritas peternak lebah di wilayah barat Amerika Serikat berasal dari jasa penyewaan koloni, dengan biaya sewa tahun 2010 berkisar dari yang termurah sebesar US$ 32 untuk penyerbukan buah strawberry dan yang termahal sebesar US$ 137 untuk buah almond (biaya sewa rata-rata keseluruhan jenis buah sebesar US$ 70).

Solusi Atas Permasalahan Budidaya Lebah Madu

Penempatan koloni lebah secara efektif sehingga dapat menjangkau seluruh sumber pakan

Kekurangan pakan biasanya disebabkan oleh cara penempatan koloni yang terkonsentrasi di satu lokasi sehingga luas wilayah sumber pakan yang dapat dijangkau menjadi terbatas. Apis cerana termasuk jenis lebah madu yang daya jangkau terbangnya relatif pendek, yaitu hanya sekitar 300 m.

Oleh karena itu, tanaman pakan yang luas tidak berarti banyak dan tidak dapat dimanfaatkan seluruh potensinya apabila koloni yang banyak hanya ditempatkan pada satu lokasi dimana lebahnya tidak dapat menjangkau seluruh sumber pakan.

Selain itu, pengelompokkan koloni yang padat menyebabkan persaingan dalam memperebutkan sumber pakan, sehingga hasil masing-masing koloni menjadi relatif kecil. Agar produktivitas masing-masing koloni lebih tinggi, koloni lebah harus diletakkan menyebar sedemikian rupa sehingga setiap koloni dapat memperoleh pakan secara maksimal.

Memperbaharui tanaman pakan lebah dan melakukan ‘pemuliaan’ bibit koloni

Adapun jalan yang harus ditempuh untuk mengatasi masalah kelangkaan sumber pakan lebah madu adalah memperbanyak tanaman pakan baru dan memperbaharui tanaman yang sudah kurang produktif.

Untuk meningkatkan produktivitas koloni, khususnya lebah madu Apis cerana, upaya ‘pemuliaan’ bibit perlu segera dilakukan. Sampai saat ini, satu-satunya cara yang paling mungkin dilakukan untuk mengadakan pemuliaan lebah madu adalah melalui kegiatan seleksi dan reproduksi koloni. Persilangan induk (perkawinan ratu dengan pejantan) dibiarkan berlangsung secara alami.

Melalui proses seleksi dan reproduksi koloni yang dilakukan terus menerus, dalam jangka panjang diharapkan akan menghasilkan koloni-koloni lebah madu yang memiliki sifat-sifat unggul.

Secara sederhana, proses seleksi koloni dilakukan dengan memilih koloni lebah yang memperlihatkan sifat-sifat unggul untuk dipelihara sebagai koloni induk. Sifat unggul dimaksud terutama yaitu memiliki produktivitas yang tinggi. Koloni induk selanjutnya dikembangkan melalui proses penangkaran, baik koloni maupun lebah ratu.

Untuk itu, budidaya Apis cerana harus menggunakan model kandang yang dilengkapi bingkai sarang (movable framehive) agar teknik pemuliaan di atas dapat dijalankan. Model kandang seperti ini memungkinkan peternak untuk memeriksa setiap sarang, menggandakan koloni, dan memproduksi lebah ratu.

.  .  .

Lebah madu adalah salah satu kekayaan sumber daya alam Indonesia. Selain dapat dimanfaatkan sebagai penghasil madu dan produk perlebahan la innya bagi kepentingan peningkatan pendapatan dan gizi masyarakat, keberadaan lebah madu juga penting bagi kesehatan lingkungan.

Oleh karena itu, dengan melihat berbagai dampak positif yang diberikan oleh lebah kepada kita dan juga lingkungan, sudah sepantasnya kita menjaga kelestarian spesies serangga yang satu ini. Beberapa cara yang dapat ditempuh adalah dengan tidak merusak lingkungan habitat lebah dan melakukan pengembangan terpadu terhadap budidaya lebah lokal.

Selain dengan mempopulerkan peternakan lebah sebagai usaha pertanian yang tak kalah menjanjikannnya secara ekonomi, tentu juga harus dibarengi dengan edukasi terhadap masyarakat luas tentang budidaya lebah madu ini agar tidak merusak lingkungan. Percayalah, Indonesia sebenarnya berpotensi besar menjadi salah satu negara dengan penghasil madu terbesar di dunia, dengan melihat kondisi iklim dan kekayaan alamnya yang berlimpah.


Sumber:

  1. Disadur dari Kuntadi. Pengembangan Budidaya Lebah Madu dan Permasalahannya. Pusat Penelitian dan Pengembangan Konsevasi dan Rehabilitasi Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan
  2. Standar Nasional Indonesia 8664-2018 tentang madu

Tinggalkan Balasan