fbpx

info@dailyhoney.co.id

Ternyata Madu dapat Mengatasi Berbagai Penyakit pada Sistem Pencernaan!

Ternyata Madu dapat Mengatasi Berbagai Penyakit pada Sistem Pencernaan!

Jika ada makanan di dunia ini yang layak disebut sebagai makanan ajaib, maka rasanya madu adalah kandidat yang pas untuk itu. Bagaimana tidak? Produk alami yang satu ini tidak hanya memiliki rasa manis dan aroma yang khas, tapi juga memiliki khasiat penyembuhan, kesuburan dan kecantikan. Sirup manis yang dihasilkan oleh lebah ini memiliki sekitar 200 kandungan senyawa didalamnya dalam bentuk karbohidrat, air, protein, vitamin, mineral, asam amino, enzim dan lain sebagainya (kecuali lemak).

Selain itu, madu juga bersifat sebagai anti-mikroba, anti-virus, anti-jamur, antioksidan, dan anti-peradangan sekaligus. Dimana lagi kita bisa menemukan bahan makanan yang seperti ini?

Salah satu manfaat madu yang mungkin tidak begitu banyak orang tahu adalah efek penyembuhannya terhadap penyakit pencernaan, seperti maag, ulkus peptis, diare atau gastroenteritis (muntaber). Peran madu dalam mengatasi gangguan pencernaan tersebut diduga kuat karena adanya zat anti-mikroba yang terkandung dalam madu. Sifat anti-bakteri ini berasal dari efek osmotik, dimana kandungan air yang rendah pada madu akan memaksa mikroba didalamnya mengeluarkan kadar air dalam tubuhnya sendiri untuk bertahan hidup, sehingga lama-kelamaan bakteri tersebut akan menciut sendiri karena kehabisan cairan pada tubuhnya hingga akhirnya mati.

Selain itu, sifat anti-bakteri pada madu ini juga diperkuat oleh kondisi asam pada madu yang memiliki derajat keasaman (pH) sekitar 3.2-4.5.

Penyakit usus yang umum diderita adalah gastroentritis atau flu perut atau  lebih umum dikenal dengan muntaber. Gastroentritis merupakan infeksi usus yang ditandai dengan diare, kram, mual, muntah dan demam. Flu perut ini bisa menular melalui kontak dengan orang yang terinfeksi atau melalui makanan atau air yang terkontaminasi. Kebanyakan penyakit pencernaan ini disebabkan oleh infeksi bakteri dan virus. Salah satunya yang cukup kronis adalah ulkus peptis atau dikenal juga dengan tukak lambung, disebabkan oleh infeksi Heliobacterpylori bacteria.

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh University of Waikato di Selandia Baru menemukan bahwa madu, khususnya madu Manuka menunjukkan efek penyembuhan terhadap ulkus peptis yang disebabkan oleh Heliobacterpylori bacteria tersebut. Madu bahkan juga dinilai efektif dalam melawan berbagai infeksi bakteri yang menyebabkan penyakit pada lambung (gastritis) seperti diare. Akan tetapi, aktivitas antimikroba tersebut menjadi kurang efektif untuk kebanyakan penyakit pencernaan ringan.

Selain memberikan efek penyembuhan terhadap infeksi H. bacteria, madu murni juga menunjukkan sifat anti-bakteri untuk organisme patogen Salmonella spp, Shigella spp, Escherichia coli dan organisme Gram negatif lainnya penyebab gastroentritis. Madu bahkan dinyatakan efektif dalam mengatasi diare pada anak-anak (Jedar et. al., 1985. The anti-bacterial action of honey: an in vitro study)

Penelitian yang dilakukan oleh Mohammad Saleem (1981) dengan memberikan dosis madu 30 mL sebelum makan sebanyak tiga kali sehari pada penderita gastritis, duodentis, dan ulkus duodenum. Hasilnya, dua pertiga pasien mengalami perbaikan dari penyakitnya setelah pemberian madu secara oral tersebut. Bahkan, kadar Hemoglobin darah (Hb) pada pasien juga meningkat (Salem, S., 1981. Honey regimen in gastroentestrian disorders).

Penelitian lain juga menemukan bahwa madu juga efektif sebagai bagian dari terapi rehidrasi oral (ORL/Oral Rehydration Therapy) untuk menanggulangi kekurangan cairan tubuh karena diare hebat. Dalam percobaan klinis, madu menunjukkan efek terapis terhadap penyembuhan pada pasien anak-anak dengan riwayat penyakit lambung yang mengindikasikan pengurangan durasi diare yang signifikan pada pasien yang diberi madu.

Child a plate of honey in the hands | Premium Photo
Gambar. Mengkonsumsi madu dapat mengatasi diare pada anak-anak secara efektif, menurut penelitian (freepik.com)

Selain menyebabkan rasa tidak nyaman pada perut, diare atau muntaber juga bisa menyebabkan dehidrasi (kekurangan cairan pada tubuh). Salah satu treatment standar yang disarankan oleh WHO untuk mencegah dehidrasi karena diare adalah dengan oralit, larutan yang menggunakan glukosa sebagai bahan utamanya. Peneliti kemudian mencoba mengganti sumber karbohidrat dalam oralit dengan madu dan menerapkannya pada pasien penderita diare tersebut. Hasilnya, masa penyembuhan dari dehidrasi terbukti lebih cepat dengan formula madu, yakni 58 jam. Sementara yang diberi formula WHO butuh waktu 93 jam (Haffejee and Moosa, 1985. Honey in treatment of infantile gastroentritis).

Madu juga banyak ditemukan sebagai salah satu komposisi pada obat-obatan tradisional seperti jamu. Madu memiliki aktivitas antimikroba yang bisa menghambat pertumbuhan mikroba yang disebabkan oleh kandungan air yang rendah. Selain itu, madu juga dapat digunakan untuk menyembuhkan gastroentritis akibat infeksi bakteri, madu juga memiliki aktivitas antivirus, seperti melawan infeksi pencernaan oleh Rotavirus (diare yang disebabkan oleh virus).

Selain itu, penelitian terhadap madu juga melihat berbagai aktivitas farmakologi madu pada penyembuhan penyakit artritis, penyembuhan infeksi saluran kemih, penurunan kadar kolesterol, pengobatan influenza dan kanker. Di Indonesia, ada beberapa produk tradional yang menggunakan madu, misalnya jamu dan minuman herbal lainnya.

Dalam sebuah buku tentang agrikultur yang merangkum berbagai manfaat dari madu berdasarakan riset dan penelitian memuat bahwa madu dapat digunakan untuk mengatasi, mencegah komplikasi atau sebagai metode penyembuhan untuk sejumlah penyakit pencernaan seperti gastroentritis, malabsorpsi, disepsia, gastritis, ulkus gastris, ulkus peptis, konstipasi, wasir, dan GERD (Laid Boukraa, 2013. Honey and traditional an modern medicine).

Selain gastroentritis yang disebabkan oleh infeksi bakteri dan virus, ada lagi penyakit pencernaan yang tidak disebabkan oleh mikroba atau patogen, yaitu GERD atau penyakit refluks gastroesofagus. GERD adalah penyakit kronis yang terjadi saat asam lambung atau empedu mengalir ke saluran makanan dan mengiritasi dinding di dalamnya. Refluks asam lambung yang terjadi lebih dari dua kali seminggu dapat mengindikasikan GERD.

Bagi kamu penderita refluks asam lambung alias GERD, bulan puasa kemarin bisa menjadi suatu tantangan tersendiri bagimu. Penyakit ini akan membuatmu lebih ekstra hati-hati dalam mengatur pola makan guna menghindari asam lambung naik saat berpuasa, melakukan diet atau telat makan.

Selain dari memilah-milah jenis makanan dan menerapkan pola makan yang teratur, menambahkan madu ke dalam daftar atau menu makanan harianmu bisa menjadi pilihan yang tepat dalam membantu mengatasi keluhan pencernaanmu.

Honey vs. Sugar: Which Is Better?
Gambar. Rutin minum madu bisa bikin pencernaanmu tetap sehat dan terhindar dari penyakit akibat infeksi bakteri dan virus (via healthline.com)

Dilansir dari Medical News Today, sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa madu ternyata dapat mencegah peningkatan asam lambung, dengan cara memberi perlindungan pada kerongkongan (esofagus) dan lambung. Maka dari itu, madu bisa membantu mengurangi risiko penyakit GERD yang dapat memicu penyakit maag, peradangan pada usus atau nyeri pada ulu hati.

.    .    .

Nah, kalau saat ini kamu mengalami salah satu dari keluhan pencernaan diatas, mungkin dengan mulai membiasakan minum madu sebagai metode treatment adalah pilihan yang tepat. Selain karena manfaatnya telah terbukti secara ilmiah, tentu saja sifat alamiah dari madu tidak akan menimbulkan efek samping (selama kamu tidak mengkonsumsinya secara berlebihan atau menderita alergi pollen). Cara penggunaannya adalah cukup dengan rutin mengkonsumsi madu 3 kali sehari sebelum makan, bisa dikonsumsi secara langsung dengan dosis 1-2 sendok makan per sesi atau ditambahkan ke dalam air hangat.

Semoga bermanfaat.


Referensi:

  1. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5424551/
  2. https://id.m.wikipedorg/wiki/madu
  3. Honey and traditional and modern medicine by Laid Boukraa Edisi 2013
  4. Haffejee and Moosa, 1985. Honey in the treatment of infantile gastroenteritis
  5. Journal of Chemical and Pharmaceutical Research. 2010. Medicinal uses and health benefits of Honey: An Overview

Tinggalkan Balasan