fbpx

info@dailyhoney.co.id

Ternyata Madu dapat Menyembuhkan Batuk dan Gangguan Pernapasan pada Anak-Anak

Ternyata Madu dapat Menyembuhkan Batuk dan Gangguan Pernapasan pada Anak-Anak

Apakah Bunda di rumah sering mendapati si buah hati mengalami batuk dan demam? Pasti hal itu sedikit banyaknya membuat Bunda khawatir, bukan? Apalagi jika batuk itu sering kambuh pada malam hari dan seringkali juga disertai dengan gangguan pernapasan. Gejala tersebut tentu sangat menganggu, sehingga si anak menjadi kesulitan tidur di malam hari.

Madu untuk mengobati batuk dan radang tenggorokan

Pada kenyataannya, batuk adalah masalah kesehatan umum yang dihadapi oleh semua orang, baik anak-anak maupun dewasa dan merupakan salah satu yang keluhan yang sering disampaikan kepada hampir semua dokter umum. Keluhannya bisa bervariasi, ada yang ringan bahkan sampai kronis dan disertai gejala lainya.

Penyakit batuk pada umumnya bersekutu dengan berbagai faktor penyebab penyakit. Terjadinya penyebab penyakit dari batuk ini tergantung pada umur, kondisi geografis, lingkungan, cuaca dan penyebaran penyakit. Penyebab gejala batuk pada populasi anak bervariasi dari orang dewasa muda. Efek sampingnya diketahui cenderung lebih berbahaya pada anak-anak ketimbang orang dewasa. Hal ini dikarenakan sistem kekebalan tubuh pada anak-anak belum matang, sehingga mereka rentan terhadap berbagai infeksi penyakit, seperti batuk yang berkepanjangan atau kronis.

Batuk pada pediatri (read: ilmu kedokteran tentang kesehatan anak) baru-baru ini menarik minat lebih banyak penelitian dan memahami penanganannya sangat penting untuk kesehatan pernapasan mereka di masa depan. Banyak obat yang digunakan untuk mengatasi batuk pada anak-anak membawa kemungkinan efek samping seperti kantuk.

Sebuah studi yang dilakukan oleh I.M. Paul dkk pada 2007 yang dipublikasikan dalam jurnal sains ‘Effect of Honey, Dextromethorphan, and No Treatment on Nocturnal Cough and Sleep Quality for Coughing Children and Their Parents’ melaporkan adanya perbaikan gejala klinis antara berbagai kelompok perlakuan dengan diberi madu. Madu diketahui menunjukkan skor perbaikan yang paling unggul dalam penanganan batuk.

Hasil penelitian itu dipertegas oleh studi lainnya yang dilakukan oleh H.A. Cohen dkk dalam jurnal ilmiah ‘Effect of Honey on Nocturnal Cough and Sleep Quality: A Double Blind, Randomized Placebo-Controlled Study’ dan menemukan bahwa madu memiliki profil keamanan dan manfaat yang sangat baik efek terhadap pencegahan batuk. Tim peneliti melakukan studi pada 300 anak usia berkisar 1-5 tahun ke atas dengan infeksi saluran pernapasan, batuk pada malam hari dan lamanya penyakit sekitar satu minggu. Para peneliti membandingkan efek dari satu dosis pada malam hari dari 3 jenis madu (madu kayu putih, madu jeruk dan madu labiatae) terhadap plasebo dari ekstrak kurma pada penanganan batuk. Plasebo adalah alat uji yang sebenarnya bukan merupakan obat dan berguna sebagai sebagai variabel kontrol (pembanding) dalam penelitian tersebut.

Nah, pada ketiga kelompok yang diberi produk madu tersebut, terjadi perbaikan kondisi yang signifikan dibandingkan terhadap kelompok dengan plasebo. Orang tua memberikan skor produk madu lebih baik daripada ekstrak kurma. Dan juga dilaporkan madu lebih baik untuk menghilangkan gejala batuk pada malam hari dan kesulitan tidur karena infeksi pernapasan pada anak-anak.

Akan tetapi, jangan lupa, ya Bunda agar menambahkan madu dengan air hangat secukupnya sebelum diberikan sebagai obat batuk pada si anak. Tekstur madu yang kental, jika tidak dilarutkan terlebih dahulu dengan air hangat akan menyebabkan rasa tidak nyaman di tenggorokan.

Madu dan penyakit asma

Selain meredakan batuk, madu juga terbukti mampu mengurangi gejala yang berhubungan dengan infeksi saluran pernapasan dan juga efektif sebagai agen pencegahan penyakit asma. Dalam pengobatan tradisional, madu umumnya digunakan untuk mengobati peradangan, batuk, dan demam. Selanjutnya,  penelitian juga menunjukkan bahwa pengobatan dengan madu secara efektif dapat menghambat peradangan saluran pernapasan dengan mengurangi aktivitas histopatologis (penyebab penyakit) dan juga menghambat infeksi pada sistem pernapasan. Menghirup aroma madu juga diketahui secara efektif dapat menghilangkan hiperplasia sel goblet yang mensekresi lendir (penyebab lendir yang merendam paru-paru).

Respiratory syncytial virus (RSV) adalah virus penyebab paling umum dari infeksi saluran pernafasan pada bayi dan anak-anak, dan juga menjangkiti orang dewasa maupun orang tua yang dapat menyebabkan kematian, terutama pada orang tua.

Madu sudah lama diketahui memiliki properti sebagai agen antivirus. Aktivitas antivirus dari madu telah diuji untuk mengamati reaksinya melawan virus RSV ini. Berbagai tes menggunakan kultur sel dikembangkan untuk menilai kerentanan virus RSV terhadap madu. Hasilnya mengkonfirmasi bahwa pengobatan dengan madu mendorong penghambatan replikasi virus tersebut.

Upaya untuk mengisolasi komponen antivirus dalam madu menunjukkan bahwa gula tidak bertanggung jawab atas penghambatan virus RSV, tetapi bisa bersifat sebagai metilglioksal (komponen dari madu yang berpotensi dalam peningkatan aktivitas melawan virus RSV). Dengan demikian, madu dapat menjadi pengobatan antivirus alternatif dan efektif untuk terapi infeksi virus pernapasan, seperti virus RSV. Namun, langkah-langkah lain, seperti vaksin yang efektif, masih diperlukan untuk mengendalikan penyakit ini.

Madu dan influenza

Influenza adalah penyakit pernapasan yang sangat menular yang berasal dari virus dan menyebabkan lebih banyak kematian daripada RSV pada semua usia, kecuali pada anak-anak yang berusia kurang dari 1 tahun. Virus influenza ditularkan dari orang ke orang melalui udara, terutama dari percikan yang dikeluarkan selama batuk atau bersin dan merupakan ancaman serius bagi kesehatan manusia. Ada kebutuhan mendesak yang masuk akal untuk pengembangan obat baru terhadap virus ini.

Oleh karena itu, aktivitas virus anti-influenza pada madu dari beberapa sumber pun dipelajari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa madu, secara umum memiliki aktivitas penghambatan yang kuat terhadap virus influenza serta menunjukkan nilai obat potensial. Selain madu, propolis juga telah dipelajari terhadap virus influenza dan tampaknya juga dapat mengurangi aktivitas virus influenza.

Madu murni dengan kualitas tinggi memiliki sifat antivirus yang kuat. Telah banyak studi yang menunjukkan bahwa madu memiliki senyawa aktif untuk melawan virus varicella-zoster (penyebab cacar air), virus RSV (penyebab asma/bronkhitis), dan juga memiliki aktivitas anti-influenza (penyebab flu/pilek). Akan tetapi, masih diperlukan studi terbaru di masa depan tentang khasiat madu ini, terutama madu dengan berbagai jenis sumber nektar.


Referensi:

  1. Saudi Journal of Biological Sciences | Role of Honey in Modern Medicine, diakses pada laman https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S1319562X16301863
  2. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5424551/
  3. https://www.intechopen.com/online-first/health-benefits-of-honey

Tinggalkan Balasan