fbpx

info@dailyhoney.co.id

Yuk! Cari Tahu Bagaimana Proses Budidaya Lebah Lokal Menghasilkan Madu dan Juga Perkembangannya di Indonesia

Yuk! Cari Tahu Bagaimana Proses Budidaya Lebah Lokal Menghasilkan Madu dan Juga Perkembangannya di Indonesia

Sebelumnya, pernahkah kamu bertanya-tanya darimana madu murni yang bisa kamu konsumsi itu berasal? Hmm… dari lebah? Memang benar. Tapi lagi-lagi, bagimana prosesnya madu yang dihasilkan oleh lebah dari sarang itu bisa sampai ke tanganmu? Tentu melalui pasar bukan? Dan pasar memasok madu yang mereka jual dari peternak lebah. Dalam prosesnya, si peternak lebah membudidayakan koloni lebah untuk menghasilkan madu, Nah, itu dia poin yang akan menjadi topik pembahasan kita kali ini.

Kebanyakan madu di pasaran — madu asli, tentunya — dihasilkan dari budidaya lebah lokal atau tidak menutup kemungkinan juga adalah madu impor. Saat ini, beberapa negara seperti Amerika, China, Turki dan Australia merupakan penhasil madu terbesar di dunia. Kalau dibandingakan, tingkat produksi madu lebah di Indoensia masih terbilang rendah, atau bahkan cenderung menurun setiap tahunnya. Hal itu sangat diasayangkan mengingat geografis Asia Tenggara yang merupakan salah satu tempat tinggal spesies lebah madu yang cukup potensial.

Menurut Muhammad Chandra, salah seorang pemerhati lebah madu sekaligus pensiunan karyawan Perhutani, koloni lebah di Indonesia ini turun drastis sejak tahun 2009. Dimana dari data Perhutani pada tahun 2008 menyebutkan  masih ada 336.969 koloni, dan turun menjadi hanya 13.392 koloni pada tahun 2009. Bahkan data terakhir tahun 2011,hanya tinggal 8.634 koloni.

Penurunan jumlah koloni lebah ini, tentu saja juga berdampak pada penurunan produksi madu secara nasional. Dimana pada tahun 2008, produktifitas madu masih mencapai 7.690 ton dan turun menjadi 1931,62 ton pada tahun 2009. Tahun 2010 turun lagi, hingga hanya mencapai 15,4 ton, tahun 2011 kembali meningkat meski hanya 107,94 ton. Dan data pada tahun 2015 menunjukkan bahwa rata-rata nilai impor madu adalah 3000 ton per tahunnya. Hal itu menunjukkan bahwa jumlah produksi madu domestik tidak mencukupi kebutuhan nasional, selain karena pengurangan produksi yang cenderung menurun setiap tahun.

Salah satu faktor penurunan ini, karena pembinaan terhadap peternak lebah madu ini kurang.  Dimana sebelum tahun 2009 itu, masih ada kepala bidang yang khusus menangani masalah lebah, namun sejak tahun 2009 di Kementerian Kehutanan  sudah dilebur dengan bidang penanganan hasil hutan, sehingga tidak intensif lagi pembinaan lebah madu iniujar Chandra.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, pada tahun 2013 lalu sudah ada rencana program nasional untuk membantu meningkatkan produktivitas madu lebah dengan dibarengi pengembangan perkebunan Kaliandra. Hal ini dikarenakan tanaman Kaliandra diketahui berbunga sepanjang tahun, sehingga bisa dimanfaatkan sebagai pakan lebah madu. Dalam satu area kebun Kaliandra bisa dipadukan dengan  budidaya lebah  madu, khususnya dari jenis Apis cerana (lebah lokal) maupun Apis maliferra (lebah Eropa).

Tanaman Kaliandra ini juga mampu hidup di daerah atau lahan kritis, sehingga sangat cocok untuk dikembangkan secara terpadu, bahkan tanpa perhatian khusus sekalipun. Intinya, tanaman ini bisa hidup dalam kondisi yang sulit sekalipun hingga ketinggian mencapai  1.800 meter dari permukaan laut. Tanaman ini hanya butuh sinar matahari, air dan zat hara. Dalam kondisi  minim zat hara, Kaliandra Merah masih bisa tumbuh, walaupun tidak seoptimal jika dibandingkan di lahan yang subur.

Salah satu area konservasi yang biasa dijadikan sebagai lokasi pelatihan budidaya Kaliandra dan lebah madu adalah Hutan Pendidikan Gunung Walat yang dikelola oleh Institut Pertanian Bogor sejak 1978. Hutan tersebut berlokasi di lereng gunung Walat, daerah Bekasi.

Lebih lanjut, Muhamad Chandra menyatakan bahwa ada sekitar 9 jenis lebah madu yang ada di dunia, namun yang bisa dibudidayakan hanya 4 jenis. Namun, yang umum dibudidayakan masyarakat di Indonesia, hanya jenis lebah madu lokal Apis cerana dan jenis lebah madu Eropa Apis malifera. Jenis lebah madu yang kedua ini agak sulit untuk budidayakan, namun ukurannya  jauh lebih besar dari lebah lokal Apis Cerana.

Kebanyakan lebah madu hidup secara berkelompok. Dalam satu koloni lebah terdiri dari satu lebah ratu (queen), ratusan lebah jantan (drone), dan ribuan lebah pekerja (worker) yang kesemuanya adalah betina. Lebah jantan bertugas untuk membuahi sang ratu sehingga menjaga kelangsungan koloni lebah.

Secara biologi, lebah madu yang mempunyai sengat adalah lebah jenis pekerja atau lebah betina. Lebah juga tidak sembarangan menyengat bila tidak terpaksa. Lebah menyengat dengan cara meninggalkan kelenjar racun dari tubuhnya untuk melumpuhkan lawan, sehingga dengan sekali menyengat, lebah akan mati. Lebah ratu juga diketahui memiliki sengat di tubuhnya, namun tidak seefektif lebah pekerja untuk melindungi diri.

Lebah jantan tidak memiliki sengat, meski secara fisik ukurannya lebih besar dan juga tampak sangar karena bentuk matanya yang lebar. Tugas lebah jantan satu-satunya adalah membuahi lebah ratu. Seperti halnya lebah pekerja/betina yang  mati setelah menyengat, lebah jantan ini pun juga akan mati bila sudah kawin dengan lebah ratu.

Lebah ratu yang mempunyai ciri memiliki badan yang paling besar, dengan bagian perut memanjang yang jauh lebih panjang dari sayapnya. Lebah ratu hanya bertugas untuk bertelur di sarang. Dan ternyata dalam satu kali proses perkawinan, lebah ratu bisa melakukannya dengan sekitar 17 pejantan.

Proses perkawinannya pun cukup unik. Sang ratu lebah dan beberapa lebah jantan melakukan proses resproduksi sambil terbang bebas di udara. Tak heran, jika lebah pejantan ini memiliki mata yang lebih lebar yang berfungsi untuk memudahkan mereka melakukan perkawinan di udara. Setelah proses perkawinan ini, lebah ratu akan terus bertelur hingga ribuan jumlahnya di sarang, yang mana telah disiapkan sebelumnya oleh lebah pekerja.

Dalam satu koloni lebah, masing-masing jenis lebah ini diketahui mempunyai pola kerja yang teratur dan pembagian tugas yang jelas. Bahkan, setiap tingkatan usia dari lebah ini juga memiliki pembagian tugas masing-masing. Seperti lebah muda, misalnya bertugas membersihkan sarang. Lebah pekerja bertugas membuat sarang, mencari makan dan menyuapi ratu. Lebah jantan hanya bertugas untuk mengawini ratu, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya.

Lebah ratu mempunyai ukuran badan yang paling besar karena memang diperlakukan secara eberbeda dalam koloni. Jika lebah pekerja atau pejantan hanya diberi makan madu yang mengandung pollen dan nektar, khusus ratu lebah diberi makan jenis royal jelly yang diketahui bernilai gizi paling tinggi.

Dengan jenis makanan ini, seekor lebah ratu ini bisa bertahan hidup hingga 3-5 tahun. Sedangkan lebah pekerja atau penjantan, hanya hidup sekitar usia 60 hari. Benar-benar jauh berbeda.

Oleh karena itulah, royal jelly ini dipercaya oleh masayarakat luas bisa meningkatkan vitalitas serta membikin awet muda dan panjang umur. Untuk  memperbanyak koloni, para petani lebah biasanya melakukannya dengan merekayasa sarang dan memberi makan jenis royal jelly terhadap larva lebah yang ditaruh dalam sarang ratu.

Lah, bagaimana caranya petani bisa tahu?

Sarang untuk lebah ratu ini memang berbeda dengan lebah lainnya. Bila sarang lebah betina berbentuk heksagonal ke arah samping dan sarang lebah jantan berbentuk lingkaran, nah untuk ratu lebah ini sarangnya menghadap ke bawah dengan ukuran yang lebih besar.

Selain menghasilkan madu, spesies lebah sebenarnya juga memiliki peran penting terhadap ekosistem di alam. Pasalnya, selain mencari nektar maupun pollen sebagai bahan pembuat madu, lebah madu ini juga membantu proses penyerbukan pada berbagai tanaman. Tak heran, jika keberadaan lebah ini sangat membantu meningkatkan produktivitas tanaman, seperti rambutan, durian, kopi, dan berbagai jenis tanaman berbunga lainnya.

Sejumlah negara besar, seperti di Eropa dan Cina, lebah jenis ini pun juga ikut dibudidayakan untuk membantu petani meningkatkan produktifitas pertanian mereka. Para peternak lebah lokal di Jawa pun, misalnya bahkan menggembalakan lebah hingga mencapai ratusan koloni ke sejumlah daerah yang memiliki potensi tanaman berbunga, seperti kopi, rambutan, mangga, alpukat.  Termasuk juga ke perkebunan Kaliandra yang juga sudah dikembangkan di Gunung Arca, Jawa Barat.

Jadi, budidaya lebah madu sebenarnya sangat ideal dilakukan secara berdampingan dengan usaha pertanian buah-buahan. Penempatan kondisi ternak madu yang berdekatan dengan kebun tanaman berbunga akan membantu lebah madu menemukan sumber nektar dengan lebih mudah dan efisien. Sehingga, para lebah pekerja tidak perlu menempuh jarak yang jauh hingga ratusan kilometer untuk menemukan nektar sebagai bahan pembuat madu. Di sisi lain, penyerbukan tanaman akan lebih terbantu dengan kehadiran lebah madu sebagai penyerbuk alami di sekitarnya. Sehingga, selain menghasilkan madu, budidaya lebah juga akan membantu meningkatkan hasil pertanian karena memproduksi lebih banyak buah.

Nah, sangat menguntungkan, bukan? Bagaimana, apakah Anda jadi tertarik untuk memulai budidaya lebah madu?


Referensi:

*disadur dari Radar Sorong dan Jawa Pos Nasional edisi 2013

Tinggalkan Balasan